Penganiayaan oleh Kaum Protestan

terutama atas Kaum Baptis

Author: Dr. David Cloud

(Penerjemah: Dr. Steven Liauw)

Walaupun para Reformator Protestan dari abad ke-16 hingga abad ke-18 menuntut kebebasan beragama dari Gereja Roma Katolik, dalam banyak kasus mereka tidak memberikan kebebasan itu kepada pihak lain. Ini adalah fakta yang jarang diceritakan dalam pelajaran sejarah gereja, sehingga tidak banyak orang yang tahu bahwa kaum Protestan dari era Reformasi menganiaya kaum Baptis dan pihak-pihak lain yang berbeda dengan mereka.

I. ZWINGLI DI ZURICH, SWITZERLAND, ADALAH SEORANG PENGANIAYA

  1. Sebelum memegang prinsip-prinsip Baptis, pemimpin Anabaptis, Conrad Grebel (1498-1526), Felix Manz, dan George Cajacob, bekerja sama dengan Zwingli pada permulaan pekerjaan Zwingli di Zurich. Namun berbeda dengan Zwingli, mereka bergerak maju melampaui Protestanisme dan konsep gereja negara menuju iman dan praktek Perjanjian Baru yang sejati.

  2. Sampai dengan akhir 1524, Grebel dan Manz telah mengambil posisi menentang baptisan bayi dan mereka mau mendirikan suatu gereja yang sejati yang hanya terdiri dari anggota-anggota yang telah lahir baru dan dibaptiskan, yang hanya melakukan Perjamuan Tuhan secara sederhana hanya sebagai suatu makanan peringatan.

  3. Pada 17 Januari 1525, sebuah perdebatan antara Zwingli dan orang-orang yang menentang baptisan bayi dilaksanakan di Zurich di hadapan dewan kota. Keputusan diambil tidak lama setelah itu. Pada hari berikutnya, 18 Januari, dewan kota mendekritkan bahwa semua bayi harus dibaptis dalam waktu delapan hari setelah kelahiran, dan mereka yang tidak mau membaptis bayi mereka akan diusir dari kota itu. Sebuah dekrit lainnya pada 21 Januari melarang semua penentang baptisan bayi untuk berkumpul bersama atau berbicara di hadapan publik.

  4. Pada hari peraturan kota yang pertama itu diserukan, Grebel, Manz, Cajacob, dan orang-orang lain yang sepikiran, berkumpul bersama untuk menentang dekrit itu dalam ketaatan kepada Firman Tuhan dan menetapkan hati untuk membentuk suatu gereja yang didasarkan pada prinsip-prinsip Alkitab sebagaimana mereka pahami dalam hal ini. Cajacob pertama dibaptis oleh Grebel berdasarkan pengakuan imannya pada Kristus; Cajacob, setelah itu, membaptis yang lainnya. Baptisan itu pertama mereka lakukan dengan cara menuang, tetapi belakangan mereka menyadari bahwa yang benar adalah menyelam, dan setelah itu mereka memakai penyelaman. Dalam waktu seminggu, 35 orang lagi dibaptis.

  5. Pada bulan Maret tahun yang sama, dewan kota yang dipengaruhi oleh Zwingli, mengeluarkan peraturan yang kuat melawan kaum Anabaptis, yang diratifikasi pada bulan November:

“Kalian tahu tanpa keraguan, dan telah mendengar dari banyak orang bahwa sejak waktu yang lama, beberapa orang yang aneh, yang berimajinasi bahwa mereka terpelajar, telah tampil secara mengagetkan, dan tanpa bukti apapun dari Kitab Suci, yang diberikan sebagai alasan oleh orang-orang yang sederhana dan saleh, dan telah mengkhotbahkan, dan tanpa izin dan persetujuan dari gereja, telah memproklamirkan bahwa baptisan bayi tidak berasal dari Allah, tetapi dari Iblis, dan oleh karena itu, tidak boleh dipraktekkan. … Jadi, kami, menetapkan dan menuntut bahwa sejak sekarang semua laki-laki, perempuan, anak lelaki dan anak perempuan, meninggalkan baptisan ulang, dan sejak sekarang ini tidak boleh mempergunakannya, dan harus membiarkan bayi dibaptis; siapapun yang bertindak berlawanan dengan aturan umum ini akan didenda untuk setiap pelanggaran, satu mark; dan JIKA ADA YANG TIDAK TAAT DAN KERAS KEPALA, MEREKA AKAN DIPERLAKUKAN DENGAN KERAS; karena, kami akan melindungi yang taat; yang tidak taat akan kami hukum sesuai dengan yang pantas baginya, tanpa gagal; dengan inilah semua orang harus memperhatikan kelakuannya. Semua ini kami konfirmasikan dengan dokumen publik ini, dicap dengan cap kota kita, dan diberikan pada hari St. Andrew, 1525 AD.”

  1. Para Anabaptis dan pemimpin-pemimpin mereka, termasuk Grebel dan Manz, dicampakkan ke dalam penjara.

  2. Pada bulan Desember 1527, Felix Manz, Jacob Falk, dan Henry Reiman, dihukum mati dengan penenggelaman. Dewan telah memutuskan, Qui mersus fuerit mergatur, atau “Dia yang menyelamkan akan ditenggelamkan.”

Pemimpin Protestan, Gastins, menulis, “Mereka suka penyelaman, jadi baiklah kita menyelamkan mereka” (De Anabaptiami, 8. Basite, 1544, dikutip oleh Christian). Para Baptis itu diserahkan kepada algojo, yang mengikat tangan mereka, menempatkan mereka dalam sebuah perahu dan melemparkan mereka ke dalam air. Ada orang Protestan yang yang dengan nada mengejek menyebut ini “baptisan ketiga.” Martis Baptis, Felix Manz (atau Mans, Mentz) (1498-1527) adalah seorang yang sangat terpelajar. Sambil dia digiring melewati kota Zurich ke perahu, dia memuji Allah bahwa dia akan mati bagi kebenaran Firman Allah. Ibunya yang tua dan saudara lelakinya yang setia menghibur dia untuk tetap setia hingga kematian. Setelah menyerukan, “Ke dalam tanganmu, Tuhan, aku menyerahkan rohku,” dia dengan kejam ditenggelamkan. Pemimpin Protestan, Henry Bullinger di Jenewa menulis sebuah catatan peristiwa tentang eksekusi Manz dan mendukung hal tersebut (Reformations Geschichte, II. 382, dikuti oleh Christian).

  1. Seorang Baptis lainnya yang dianiaya oleh orang-orang berpengaruh di Zurich-nya Zwingli adalah BALTHASAR HUBMAIER.

Dia adalah seseorang yang sangat terpelajar dan pernah menjadi teman dekat Zwingli di tahun- tahun awal, dan mereka pernah berjuang bersama untuk melawan Roma Katolik. Tetapi Hubmaier rindu untuk mengikuti Alkitab dalam semua hal dan dia menolak baptisan bayi dan menjadi seorang Baptis. Dia menulis buku-buku yang hebat untuk mempertahankan imannya dan salah satunya adalah untuk mempertahankan baptisan orang percaya. Dia berkata, “Perintah Tuhan adalah untuk membaptis mereka yang percaya. Jadi, membaptis orang-orang yang belum percaya, dilarang.” Dia benar sekali. Dia juga menulis sebuah buku untuk melawan penganiayaan, berjudul “Tentang Para Penyesat dan Orang-Orang yang Membakar Mereka.” Dia mengajarkan bahwa bukanlah kehendak Yesus Kristus untuk membunuh orang karena apa yang mereka percayai, bahwa tugas gereja adalah menyelamatkan manusia, bukan membakar mereka.

Dia dicampakkan ke dalam penjara oleh para Protestan kota Zurich pada Januari 1526 dan ditahan di sana selama empat bulan. Permintaan-permintaan yang dia layangkan kepada teman lamanya, Zwingli, tidak dihiraukan. Istrinya juga ada dalam penjara dan kesehatannya hancur. Dia baru saja keluar dari suatu penyakit yang hampir membunuh dia.

Dalam kondisi yang menyedihkan dan penuh keputusasaan ini, dia disiksa di atas rak oleh otoritas Protestan; dan pada tanggal 6 April 1526, orang yang telah dihancurkan tersebut menarik kembali kepercayaannya. Orang-orang Zurich dipanggil untuk berkumpul di katedral untuk mendengarkan penarikan kepercayaan oleh pengkhotbah Baptis yang terkenal ini. Zwingli pertama menyampaikan sebuah khotbah tentang para penyesat. Lalu setiap mata tertuju kepada Hubmaier, yang maju untuk membacakan penarikan kembali imannya. Sambil dia memulai dengan suara yang gemetar, dia tak kuasa untuk menahan tangis. Sambil dia terhuyung-huyung dalam derita, tiba-tiba dia dikuatkan oleh Tuhan. Dia berteriak, “BAPTISAN BAYI BUKAN DARI ALLAH, DAN ORANG HARUS DIBAPTIS BERDASARKAN IMAN DALAM KRISTUS!” Kekacauan langsung terjadi. Ada yang berteriak-teriak menghina dia, sementara yang lain meneriakkan pujian. Para otortias Zurich segera membawa dia kembali ke penjara bawah tanah.

Di sana dia menuliskan kata-kata doa yang mulia ini kepada Allah: “O, Allah yang kekal, inilah iman saya. Saya mengakuinya dengan hati dan mulut, dan telah menyaksikannya ke hadapan umum di hadapan Gereja dalam baptisan. Saya dengan setia berdoa agar Engkau dengan rahmat menjagaku sampai pada akhirku, dan seandainya saya dipaksa untuk keluar dari iman ini oleh karena ketakutan dan kepengecutan, oleh karena tirani, siksa, pedang, api, atau air, saya kini meminta kepadaMu. O, Bapa yang penuh kasih, untuk membangkitkanku lagi oleh kasih karunia Roh KudusMu, dan jangan mengizinkan saya untuk pergi tanpa iman ini. Hal ini, saya doakan dari hati saya yang terdalam, melalui Yesus Kristus, AnakMu yang terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami. Bapa, dalamMu aku menaruh percayaku, jangan biarkan aku menjadi malu.”

Doa itu dijawab, karena Hubmaier terus berdiri bagi Tuhan dan setia sampai mati. Setelah dia diizinkan untuk meninggalkan Zurich, dia pindah ke Moravia, dan di sana dia memiliki pelayanan yang sangat berbuah dan tuain jiwa yang besar dibawa kepada Tuhan.

Pada tanggal 10 Maret 1528, di Vienna, dia dibakar hingga mati di tiang bakar, dan dia mati dalam iman yang dia khotbahkan. Istrinya yang adalah seorang Kristen yang setia, ditenggelamkan delapan hari kemudian.

  1. Sekitar waktu itu, Zwingli menulis sebuah buku yang keras untuk melawan para Anabaptis yang berjudul Elenchus contria Catbaptistas, atau Suatu Bantahan Terhadap Tipuan-Tipuan para Katabaptis atau Para Penenggelam. Dia menyebut kaum Anabaptis sebagai “keledai-keledai liar” dan istilah-istilah hujat lainnya dan mengatakan bahwa penyelaman mereka berasal dari Neraka dan bahwa kaum Anabaptis sendiri akan pergi ke Neraka.

  2. Sekitar waktu itu, penganiayaan dilancarkan terhadap kaum Baptis di St. Gall, Switzerland. Para pengkhotbah Baptis, seperti Konrad Grebel dan Eberle Polt berkhotbah dengan sukses yang besar di St. Gall dan ribuan orang dari seluruh daerah negeri itu mengakui Kristus dan menerima baptisan orang percaya. Melalui dorongan Zwingli, dewan kota St. Gall menetapkan untuk menganiaya mereka dengan cara penenggelaman jika mereka menolak untuk meninggalkan daerah tersebut. Pada tanggal 9 September 1527, mereka mengeluarkan dekrit berikut:

“Supaya sekte Baptis yang berbahaya, jahat, penuh pergolakan, dan memecah belah itu dapat ditumpas, kami telah mendekritkan yang berikut ini: Jika seseorang dicurigai melakukan baptisan ulang, dia akan diperingatkan oleh magistrasi [semacam jabatan sipil yang menegakkan hukum waktu itu] untuk meninggalkan daerah ini dengan ancaman hukuman yang telah ditentukan (ditenggelamkan). Setiap orang diharuskan untuk melaporkan siapa yang setuju dan simpati dengan baptisan ulang. Siapapun yang tidak menuruti aturan ini, dapat dihukum menurut keputusan magistrasi. Para pengajar baptisan ulang, pengkhotbah baptisan ulang, dan pemimpin pertemuan- pertemuan rahasia HARUS DITENGGELAMKAN. Mereka yang sebelumnya telah dilepaskan dari penjara yang telah bersumpah untuk berhenti dari hal-hal demikian, akan mendapatkan hukuman yang sama. Para Baptis asing harus diusir keluar; jika mereka kembali MEREKA AKAN DITENGGELAMKAN. Tidak seorang pun diizinkan untuk memisahkan diri dari gereja [Zwingli] dan untuk tidak hadir dalam Perjamuan Kudus. Siapapun yang melarikan diri dari satu yurisdiksi ke yang lainnya akan diusir atau diekstradisi sesuai permintaan.” Dekrit yang dikeluarkan pada tanggal 26 Maret 1530, bahkan lebih keras lagi: “Semua yang memegang atau bersimpati dengan sekte sesat para Baptis, dan yang menghadiri pertemuan-pertemuan mereka, akan ditimpakan hukuman-hukuman yang paling berat. PARA PEMIMPIN BAPTIS, PENGIKUT-PENGIKUT MEREKA, DAN PELINDUNG-PELINDUNG MEREKA AKAN DITENGGELAMKAN TANPA BELAS KASIHAN. Namun, mereka yang menolong mereka, atau yang gagal melaporkan atau menangkap mereka akan dihukum dengan cara lain pada tubuh atau harta, sebagai rakyat yang merusak dan tidak setia.”

  1. Inkuisisi Protestan ini sangat mirip dengan yang dilakukan oleh Roma Katolik. Para Protestan mengharuskan bahwa semua warga negara/kota mereka tunduk kepada doktrin dan praktek mereka, dengan ancaman maut. Mereka mengharuskan bahwa setiap warga menjadi mata-mata untuk melaporkan kehadiran orang-orang yang tidak setuju. Bukan hanya para penentang dianiaya, demikian juga siapapun yang menolong mereka dengan cara apapun, termasuk mereka yang bahkan gagal melaporkan mereka.

  2. Zwingli adalah seorang munafik dalam hal penganiayaan. Dia bersuara melawan para Katolik ketika mereka menganiaya kaum Protestan, tetapi dia mendukung penganiayaan terhadap kaum Baptis. Dalam 67 thesisnya melawan Roma, Zwingli berkata: “Tidak boleh ada pemaksaan yang dipergunakan dalam kasus mereka yang tidak mengakui kesalahan mereka, kecuali jika perilaku mereka yang memberontak menganggu perdamaian orang lain.” Namun, dia mengabaikan aturannya sendiri ini dan memaksa orang lain untuk percaya seperti dia percaya. Para Baptis bukanlah kaum yang memberontak. Mereka tidak berusaha untuk menggulingkan pemerintah. Mereka hanya ingin menjalankan iman mereka sendiri dalam kedamaian.

  3. Penganiayaan oleh kaum Protestan di Switzerland berlanjut pada abad ke-17. “Pada konsili Jenewa, 1632, Nicholas Anthoine dihukum untuk pertama-tama digantung dan kemudian dibakar karena menentang doktrin Trinitas; dan di Basil dan Zurich, sejak Reformasi, kesesatan adalah suatu kejahatan yang dapat dijatuhi hukuman mati, sebagaimana dibuktikan dengan sangat jelas oleh kematian David George dan Felix” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. Xxviii).

  4. Bahkan sampai dengan 1671, tujuh ratus orang, tanpa rumah dan harta, diusir keluar dari Berne. Besar penderitaan yang dialami tua dan muda (Richard Cook, The Story of the Baptists, 1888, hal. 65).

II. KAUM LUTHERAN DI JERMAN ADALAH PENGANIAYA

  1. Memperhatikan posisi Martin Luther tentang penganiayaan

Penting untuk memahami bahwa Luther mengubah posisinya dalam banyak hal yang penting. Pada masa-masa awal Reformasinya, sebagai contoh, Luther mengajarkan bahwa cara yang benar untuk baptisan adalah penyelaman.

Dia berubah masalah baptisan. Dalam Perjanjian Baru bahasa Jerman yang dia buat, dia menerjemahkan “membaptis” dengan kata “mencelupkan,” yang adalah terjemahan yang bagus, karena memang kata tersebut berarti memasukkan ke dalam air dan mengeluarkan dari air. Istilah “menyelamkan,” sebaliknya, tidak memiliki konotasi mengeluarkan lagi dari air. Pada tahun 1518, dia bukan hanya mengajarkan bahwa kata “baptis” artinya menyelamkan, tetapi juga bahwa arti upacara tersebut menunjuk kepada penyelaman. “Hal ini juga dituntut oleh signifikansi dari baptisan, karena memberikan arti bahwa manusia lama dan kelahiran dosa dari darah dan daging akan sepenuhnya ditenggelamkan melalui kasih karunia Allah. Jadi, seseorang harus melakukan artinya dan tandanya yang sempurna secara cukup.

Tandanya itu terletak pada, hal ini, yaitu seseorang memasukkan orang lain ke dalam air dalam nama Bapa, dll., tetapi tidak meninggalkan dia di dalam air itu, tetapi mengangkat dia naik kembali; jadi ini disebut diangkat keluar dari kolam atau kedalaman. Dan jadi haruslah kedua hal ini menjadi tandanya; mencelupkan dan mengangkat naik kembali. Ketiga, artinya adalah kematian dosa yang menyelamatkan dan kebangkitan kasih karunia Allah. Baptisan adalah permandian kelahiran kembali. Juga adalah penenggelaman dosa-dosa dalam baptisan (Luther, Opera Lutheri, I. 319. Folio edition). Bahasa Luther mirip dengan kaum Baptis dalam poin ini, tetapi pada saat yang sama, dia membela praktek baptisan bayi yang tidak alkitabiah; dan tidak lama setelah itu dia menyerah dalam hal debat tentang baptisan dan menjadi musuh kaum Anabaptis.

Luther juga berubah masalah penganiayaan dan penumpahan darah.

Di masal awal karir reformasinya, Luther tidak mendukung hukuman mati bagi para guru-guru palsu, walaupun dia mendukung penganiayaan terhadap mereka asal tidak sampai dihukum mati dan juga mendukung pengasingan mereka. “Walaupun secara alami memiliki emosi yang hangat dan keras, dia tidak suka menghukum para penyesat dengan hukuman mati. Dia berkata dalam tulisan-tulisannya, Saya sangat tidak senang akan penumpahan darah, bahkan dalam kasus-kasus yang pantas; saya lebih lagi menakutinya, karena, sebagaimana para anak buah Paus dan orang Yahudi, dengan alasan yang sama ini, telah menghancurkan para nabi kudus dan orang-orang tidak bersalah, demikianlah saya takut hal yang sama akan terjadi di kalangan kita sendiri, jika, dalam satu saja kejadian, diizinkan untuk menghukum mati para penyesat. Jadi, saya tidak dapat dengan cara bagaimanapun, menyetujui agar guru-guru palsu dibunuh. Tetapi mengenai semua bentuk-bentuk hukuman lainnya, dia berpikir bahwa itu bisa, dengan sah, dilakukan: karena setelah perikop di atas dia menambahkan lagi, bahwa cukuplah sudah mereka itu diasingkan. Cocok dengan prinsip-prinsip ini, dia meyakinkan para elektor di Saxony untuk tidak menolerir, di daerah mereka, para pengikut Zuinglius, dalam pandangan mereka tentang sakramen; dan juga untuk tidak bersekutu dengan mereka dalam hal apapun, demi pertahanan mereka besama melawan usaha para katolik untuk menghancurkan mereka. …Dia juga menulis kepada Albert, Duke dari Prussia, untuk meyakinkan dia untuk mengasingkan orang-orang tersebut dari wilayahnya” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxvii, xxviii).

Belakangan Luther berubah secara dramatis. Dia mendukung penghancuran total dari para petani yang memberontak. “Tetapi ketika pada petani Jerman mencoba untuk mengaplikasikan ‘kebebasan’ ini pada diri mereka sendiri dengan cara menggulingkan pada tuan yang kejam dan mendapatkan kemerdekaan, Luther mengamuk terhadap mereka: ‘Para petani tidak mau mendengar; mereka tidak mau mengizinkan siapapun memberitahu mereka apapun; telinga mereka harus dibuka dengan peluru, sampai kepala mereka lepas dari bahu mereka. …Terhadap para petani yang keras kepala, membatu, dan buta itu; janganlah seorang pun menunjukkan belas kasihan, tetapi baiklah semua orang, semampunya, membacok, menusuk, membunuh, dan membabat sekitarnya seolah-olah di antara anjing-anjing, … supaya damai dan keamanan dapat terpelihara….dll.’ [Martin Luther, Werke, Erlangen edition, vol. 24, hal. 294; vol.15, hal. 276; passim.] Tulisan Luther tentang perang-perang dengan kaum petani penuh dengan ekspresi seperti diatas. Ketika dia pada tahun-tahun belakangan dicela karena menggunakan bahasa yang sedemikian kasar, dan karena menggerakkan pada tuan wilayah untuk membantai mereka tanpa ampun (mereka membunuh lebih dari 100.000 petani), dia menjawab dengan penuh perlawanan:

“Adalah saya, Martin Luther, yang membunuh semua petani dalam pemberontakan itu, karena saya memerintahkan mereka untuk dibantai. Semua darah mereka ada atas pundak saya. Tetapi saya melemparkannya pada Tuhan Allah kita yang memerintahkan saya untuk berbicara seperti itu.’ [Martin Luther, Werke, Erlangen edition, vol. 59, hal. 284] (William McGrath, Anabaptists: Neither Catholic nor Protestant, http://www.pbministries.org/History/ William%20R.%20McGrath/the_anabaptists_part1.htm ).

Luther juga berbalik melawan kaum anabaptis yang pernah mendapat simpatinya. “Lebih menyedihkan lagi, Luther bereaksi dengan kekerasan yang sama terhadap kaum Anabaptis yang mencoba untuk menerapkan prinsip ‘kebebasan’ pada diri mereka sendiri. Walaupun dia tahu bahwa ada kaum Anabaptis yang tidak melawan dan sama sekali tidak berbahaya, dan juga ada elemen revolusioner yang pinggiran tetapi radikal, dia mengelompokkan semuanya menjadi satu dan memilih kebijakan untuk menghancurkan semuanya sekaligus” (William McGrath, Anabaptists: Neither Catholic nor Protestant, http://www.pbministries.org/History/William%20R.%20McGrath/ the_anabaptists_part1.htm ).

  1. Pada tahun 1529, aturan DIET OF SPEIRS menyatakan hukuman mati bagi semua Anabaptis. Dewan yang mengeluarkan aturan ini terdiri dari pangeran dan kepala negara Roma Katolik maupun Protetan. Mereka saling membenci, dan bahkan untuk membuat Aturan (Diet) ini pun mereka banyak tidak bisa sepakat, tetapi mereka membenci kaum Anabaptis lebih lagi!

  2. Pengumuman Diet (Aturan) ini, sangat mempercepat program pemusnahan yang sudah berjalan. “Empat ratus polisi spesial dipekerjakan untuk memburu kaum Anabaptis dan mengeksekusi mereka di tempat. Angka ini ternyata terlalu sedikit dan ditingkatkan menjadi seribu. …ribuan Anabaptis jatuh korban kepada salah satu penganiayaan paling menyeluruh dalam sejarah Kristen. …Kayu api dan tiang bakar yang menyala menjadi pertanda perjalanan mereka di seluruh Eropa” (Halley).

  3. Pada tahun 1538, Elektor Lutheran di Hesse, Jerman, menulis kepada Raja Henry VIII di Inggris dan mendorong dia untuk menganiaya kaum Anabaptis. Dia bersaksi: “Tidak ada pemerintah di Jerman, apakah yang dari pihak Paus, ataupun para penganut doktrin Injil [Protestan], yang membiarkan orang-orang ini jika jatuh ke tangan mereka. Semua orang akan menghukum mereka dengan cepat. Kita menggunakan peraturan yang adil, yang Allah tuntut dari semua pemerintah yang baik. Jika ada yang dengan keras kepala membela kesalahan-kesalahan yang fasik dan jahat dari sekte tersebut, tidak mau menurut kepada orang-orang yang dapat mengajar mereka dengan benar, maka mereka ini ditaruh di tempat di penjara, dan terkadang dihukum dengan berat di sana; namun mereka diperlakukan sedemikian rupa, sehingga kematian tidak akan terjadi untuk waktu yang lama, dengan harapan akan ada perbaikan; dan selama ada harapan, kita lebih memilih untuk menunjukkan kehidupan. Jika tidak ada harapan lagi, maka yang keras kepala dihukum mati” (Evans, The Early English Baptists, pasal 2). Itu adalah “peraturan adil” yang dijalankan Protestan!

  4. “Seckendorf juga memberitahu kita, bahwa para pengacara Lutheran di Wittenburg, menghukum mati seorang Pestelius, karena ia dari kelompok Zuinglian, walaupun hal ini tidak disetujui oleh elektor Saxony. Beberapa orang Anabaptis juga dihukum mati, oleh para Lutheran, karena ketegaran mereka untuk terus menyebarkan kesalahan-kesalahan mereka” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. Xxviii).

  5. URBANUS RHEGIUS adalah seorang pemimpin Lutheran di Augsburg yang menganiaya kaum Baptis. Dia menerbitkan sebuah buku melawan kaum Baptis pada tahun 1528. Ilustrasi pada halaman judulnya mendemonstrasikan kebencian para Lutheran terhadap sekte ini. Pada halaman sampul terlihat sebuah sungai yang mengalir ke suatu badan air yang besar seperti laut. Para Baptis digambarkan sedang terjatuh ke dalam air dan terbawa ke laut itu ke api yang menyala-nyala. Jadi, air dalam baptisan orang percaya digambarkan sebagai jalan menuju neraka. Ini adalah posisi standar kaum Lutheran pada waktu itu.

Rhegius adalah penggerak utama penganiayaan di kota Protestan, Augsburg. Sejarahwan Philip Schaff, yang sendirinya adalah seorang Lutheran dan jelas tidak bias melawan kaum Protestan, mengatakan, “Rhegius menggerakkan para magistrasi untuk melawan mereka” (Schaff, History of the Christian Church, VI. 578). Hans Koch dan Leonard Meyster dimatikan pada tahun 1524. Rhegius menyebabkan gembala sidang Baptis, Hans Denk, diusir dari kota pada tahun 1527. Dia menyebabkan gembala Langenmantel ditangkap dan diasingkan pada bulan Oktober tahun itu juga. Leonard Snyder dimatikan pada tahun 1527. Banyak yang mati dalam penjara, termasuk Hans Hut, yang jasadnya dibakar di lapangan umum di Augsburg. Gembala Baptis, Seebold, dimatikan pada bulan April 1528, dan 12 lainnya dibunuh belakangan tahun itu. Banyak yang disiksa dan dicap dengan besi panas. Satu orang dipotong lidahnya karena bersuara menentang baptisan bayi.

  1. Tokoh reformator Lutheran, OSIANDER, di Nuremberg, Jerman, menganiaya dan mengancamkan kematian kepada kaum Anabaptis di wilayahnya.

Hans Denk, yang belakangan menggembalakan sebuah gereja Baptis besar di Strasburg, ditunjuk untuk menjadi kepala sekolah sekolah Lutheran St. Sebald di Nuremberg. Pada waktu itu, Denk baru saja mulai mengembangkan paham-paham Anabaptis-nya, dan dia segera berkonflik dengan para Protestan. Pada Januari 1525, Denk diusir dari kota itu oleh Osiander, dan diperingatkan bahwa jika dia datang lagi dalam jarah 10 mil dari kota, dia akan dibunuh. Denk pindah ke Augsburg, dibaptis di sana oleh pengkhotbah Anabaptis, Hubmaier, dan menjadi gembala sidang dari sebuah gereja Baptis yang kuat di kota itu, dengan keanggotaan mencapai 1.100 orang. Akhirnya, pemimpin Lutheran yang telah disebut di atas, Urbanus Rhegius, menganiaya Denk dan mengusirnya dari Augsburg.

  1. Pemimpin Lutheran lainnya yang terkenal adalah MARTIN BUCER (1491-1551). Dia berpengaruh di Augsburg, Jerman, dan berusaha membuat dewan kota menganiaya kaum Anabaptis.

Bucer senantiasa frustrasi dengan Dewan kota karena mereka ragu-ragu untuk menganiaya kaum Anabaptis sekeras yang dia inginkan, dan menyebut hal ini sebagai “dosa dari Senat.” Dalam kasus Pilgram Marbeck dan beberapa orang lainnya, dia berhasil. Marbeck adalah seorang insinyur sipil yang menonjol, yang terpaksa untuk lari dari kota Tyrol, yang dikuasai Katolik, karena penganiayaan. Dia tiba di Augsburg pada 1530, dan berkhotbah dengan berani bukan hanya melawan kesalahan-kesalahan Roma, tetapi juga kesalahan-kesalahan para Reformator Protestan. Ketika dia menerbitkan dua buku yang mempertahankan pandangannya pada tahun 1531, dewan kota melarang distribusi buku tersebut dan memanggil dia untuk memberikan jawaban. Bucer hadir di sana dan melawan dia, dan pada 18 Desember, dewan kota mengasingkan pengkhotbah Anabaptis ini, di tengah musim dingin, dengan Bucer sepenuhnya mendukung keputusan yang kejam tersebut.

Pada tahun 1529, dewan kota Augsburg, yang dipengaruhi oleh kaum Protestan, memenjarakan pengkhotbah Anabaptis Jacob Kantz dan Reublin di sel-sel tahanan yang gelap di menara kota. Kantz telah menyebut para Reformator sebagai “tukang-tukang yang tidak berketerampilan, yang banyak membongkar, tetapi tidak mampu untuk menyusun apa-apa.” Ini adalah pendapat yang sejati dari sudut pandang Baptis, tetapi kaum Protestan tidak suka dengan gambaran demikian.

Ketika di dalam penjara, para Baptis menulis untuk mempertahankan baptisan orang percaya sebagai simbol ekspresi iman internal kepada Kristus. Mereka mengatakan bahwa “iman yang diakui adalah anggur, dan baptisan adalah papan nama yang digantung di luar untuk menunjukkan anggur yang ada di dalam.”

Pada tahun 1534, dewan kota mengusir semua kaum Baptis dari kota itu, dengan memberikan delapan hari peringatan. Tahun berikutnya, dewan kota Protestan tersebut mengklaim bahwa semua bayi harus dibaptis dan jika tidak orang tuanya akan dihukum, dan tidak ada seorang pun yang boleh memberikan tumpangan atau bantuan kepada kaum Anabaptis.

Pada tahun 1538, karena tidak berhasil menghilangkan semua kaum Anabaptis yang dibenci itu, dewan Protestan di Augsburg memproklamirkan bahwa orang-orang yang kembali ke kota itu [setelah diusir], untuk kali pertama akan kehilangan sebuah jari, dicap di pipi, dan dipasang besi di leher. Jika mereka kembali lagi, mereka akan ditenggelamkan. Dengan seriusnya proklamasi itu menambahkan,

“Kami melakukan ini, bukan untuk membuat orang memercayai yang kami percayai. Ini bukan masalah iman, tetapi untuk menghindarkan perpecahan dalam Gereja.” Halo! Perpecahan yang terjadi adalah karena masalah iman!

III. JOHN CALVIN DI JENEWA ADALAH SEORANG PENGANIAYA

  1. Calvin memaksakan doktrin dan prinsip-prinsip Kristiani dengan todongan pedang. Pada Oktober 1563, pemerintah Jenewa membakar hingga mati Michael Servetus karena kesesatan. Servetus berpegang pada pandangan unitarian dan jelas adalah seorang guru palsu, tetapi Perjanjian Baru sama sekali tidak pernah menginstruksikan gereja-gereja Tuhan untuk membunuh guru-guru palsu. Hukuman mati Servetus didukung bukan hanya oleh Calvin, tetapi juga oleh Melanchthon di Jerman dan Bullinger di Jenewa dan pemimpin-pemimpin Protestan lainnya yang dimintai pendapat tentang kasus tersebut.

  2. Orang-orang lain juga dihukum mati di bawah pengawasan Calvin. “Sedemikian setujunya dia dengan tindakan- tindakan penganiayaan itu, sehingga dia menulis sebuah buku untuk mempertahankannya, yaitu mempertahankan legalitas mematikan para penyesat; dan dia menerapkan teori-teori kaku ini kepada prakteknya, dalam perlakuan dia terhadap Castellio, Jerom Bolsee, dan Servetus, orang-orang yang nasibnya sudah diketahui umum sehingga tidak perlu diulangi di sini. Pada konsili Jenewa 1632, Nicholas Anthoine dijatuhi hukuman pertama-tama digantung, dan lalu dibakar, karena menentang doktrin Tritunggal…” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. Xxviii).

  3. Pada zaman Raja Edward VI di Inggris, Calvin menulis sebuah surat ke Lord Protector Somerset, dan menghimbau dia untuk membunuh para Anabaptis: “Mereka ini semua pantas untuk dihukum dengan pedang, karena mereka sungguh bersekongkol melawan Allah, yang telah menempatkan dia di kursi kerajaannya” (John Christian, A History of the Baptists, Vol. 1, chap. 15).

  4. Sejarahwan John Christian mengobservasi bahwa Calvin “bertanggung jawab besar untuk setan kebencian dan perlawanan sengit yang harus dihadapi oleh kaum Baptis di Inggris.”

IV. PENGANIAYAAN OLEH KALVINIS DI BELANDA MELAWAN KAUM ARMINIAN

“Jika kita berpindah ke Belanda, kita juga akan menemukan bahwa para reformator di sana, kebanyakan mereka, mendukung prinsip-prinsip dan tindakan-tindakan penganiayaan. …perselisihan yang paling menggemparkan adalah antara kaum Kalvinis dan Arminian. … Pada saat kedua pihak memiliki suatu dogma untuk diperdebatkan, kontroversi tersebut menjadi tidak lagi dapat diselesaikan, dan dilaksanakan dengan kekerasan yang mencengangkan. Para pelayan dari pihak predestinasi tidak mau sama sekali membuat kesepakatan; para remonstran [non-Kalvinis] menjadi objek semangat mereka yang membara, yang mereka sebut sebagai orang-orang bodoh, setan-setan dan tulah-tulah; menggerakkan para magistrasi untuk menghancurkan mereka; dan ketika waktu pemilihan baru mendekat, mereka meminta kepada Allah orang-orang yang menggebu-gebu, bahkan hingga penumpahan darah, sekalipun harus membayar harga seluruh perdagangan kota-kota mereka. Pada akhirnya, sebuah sidang sinode berkumpul, bertindak dalam tata cara yang biasa; mereka memproklamirkan prinsip-prinsip iman dengan yakin, menghukum doktrin para remonstran; mengusir antagonis mereka dari jabatan-jabatan mereka; dan mengakhiri dengan rendah hati meminta Allah dan para petinggi mereka, untuk mengeksekusi dekrit- dekrit mereka, dan untuk meratifikasi doktrin yang telah mereka ekspresikan. Pemerintah menuruti mereka dalam permintaan yang kristiani yang penuh kasih ini, karena segera setelah sidang sinode berakhir, Barnwelt, seorang teman dari kaum remonstran dan pendapat mereka, dipenggal kepalanya, dan Grotius dijatuhi hukuman penjara seumur hidup; dan karena para pelayan yang berbeda pendapat tidak mau berjanji secara total dan terus menerus untuk tidak menjalankan tugas-tugas religius mereka, negara mengeluarkan resolusi untuk pengusiran mereka, dengan ancaman, jika mereka tidak menerima hal tersebut, bahwa mereka akan diperlakukan sebagai pengganggu ketenangan umum” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. xxviii, xxix).

V. GEREJA INGGRIS ADALAH PENGANIAYA

Gereja Anglikan dibentuk pada tahun 1534 oleh Raja Henry VIII, dan sejak saat itu hingga hampir akhir abad 17, kaum Baptis dan kelompok-kelompok lainnya yang menolak untuk tunduk kepada gereja negara mengalami penganiayaan.

VI. PENGANIAYAAN KAUM BAPTIS PADA ZAMAN RAJA HENRY VIII, SETELAH DIA BERPISAH DARI ROMA

  1. Henry naik takhta pada tahun 1509, dan tiga kali dalam pemerintahannya dia mencela kaum Anabaptis melalui proklamasi resmi. Di sisi lain, ini adalah bukti yang tak terbantahkan bahwa sudah ada kaum Baptis di Inggris pada waktu yang awal tersebut.

  2. Pada tahun 1534, Henry berpisah dari Roma dan membentuk Gereja Inggris.

  3. Pada tahun 1535, 28 orang Belanda ditangkap dan 14 dibakar sampai mati, minimal salah satunya seorang wanita. Sejarahwan Stowe mengatakan bahwa mereka menyangkal bahwa Kristus adalah Allah dan manusia, tetapi tidaklah mungkin sekarang ini untuk tahu secara persis apa yang mereka percayai, selain dari yang dituduhkan oleh musuh mereka pada mereka. Latimer, yang adalah pelayan kapel di bawah raja Henry, dan yang belakangan dibakar juga oleh Ratu Mary, menggambarkan kematian mereka dan mengatakan bahwa mereka maju ke tiang bakar “tanpa rasa takut apapun di dunia, dengan riang gembira.”

  4. Menurut Foxe, dengan mengutip catatan-catatan registrar London, sembilan belas Anabaptis lainnya dihukum mati di berbagai tempat di kerajaan itu pada tahun 1535.

  5. Pada Oktober 1538, raja menunjuk Thomas Cranmer, Uskup Agung Canterbury yang baru (setelah kematian Warham), untuk mengepalai sebuah komite untuk menuntut para Baptis di mana pun mereka dapat ditemukan. Dia memerintahkan agar buku-buku para Baptis diambil dan dibakar. “Bahkan para reformator kita yang telah melihat api yang dinyalakan oleh kaum Katolik melawan saudara mereka, telah sendirinya menyalakan api juga untuk menghanguskan orang-orang yang berbeda dengan mereka. Tangan Cranmer berlumuran darah beberapa orang. John Lambert dan Ann Askew akan selalu menjadi saksi semangatnya dalam menghancurkan” (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. Xxix).

  6. Pada tahun 1539, dua lagi orang Anabaptis dibakar.

  7. Anne Askew dipenjarakan, disiksa, dan akhirnya dibakar hingga mati pada Juli 1546. Dia dibunuh oleh tangan Gereja Inggris setelah Gereja itu berpisah dari Roma.

Setelah wanita berusia 24 tahun itu dijatuhi hukuman mati dan dipenjarakan di Menara London untuk menantikan eksekusi, para penganiaya-nya berusaha untuk membuat dia membocorkan informasi tentang orang-orang percaya lainnya. Mereka juga berharap untuk mendapatkan informasi melawan Ratu Catherine sendiri, yaitu istri dari Henry VIII. Ketika Anne menolak untuk memberikan mereka informasi apapun, mereka menaruh wanita lemah itu di atas rak penyiksaan dan memerintahkan Sir Anthony Knyvet, Letnan di Menara tersebut, untuk menginstruksikan penjaga penjara untuk menyiksa dia. Dia melakukannya, tetapi tidak dengan terlalu keras, meningat sifat feminim dari subjek. Tidak puas dengan penyiksaan rak yang diberikan kepadanya oleh sang Letnan, Thomas Wriothesley, kanselir Inggris, dan Master Rich, Solicitor-General, dengan marah mengambil alih kontrol atas rak penyiksaan dan memperlakukan wanita saleh itu dengan kekejaman yang tidak manusiawi. Sedemikian bertekadnya mereka untuk mendapatkan nama-nama wanita bangsawan manapun yang percaya kepada kasih karunia Yesus Kristus, mereka dengan kejam menyiksanya, menarik tulang-tulang dan pergelangan-pergelangannya keluar dari tempat semestinya, sedemikian rupa sehingga dia tidak bisa berjalan setelah itu dan harus diangkat ke tempat eksekusinya di atas sebuah kursi. Sementara semua itu berlangsung, dia tidak menangis dan menanggung penyiksaan jahat mereka dengan kasih karunia kesabaran yang diberikan kepadanya oleh Tuhan, menolak untuk membocokan satu pun dari teman-temannya kepada para penyiksa. Dia akhirnya pingsan dari rasa sakit, dan Sir Knyvet membawa dia dengan tangannya dan meletakkan dia di atas lantai. Ketika dia bangun, dan sementara dia masih terbaring di atas lantai batu yang keras, Wriothesley masih tinggal bersama dia dua jam lebih lama, berusaha untuk membuat dia menyangkali pandangan-pandangan agamawinya.

Dalam kesaksian tertulisnya, wanita Kristen yang berani tersebut memberikan suatu kesaksian yang mulia tentang imannya dalam Yesus Kristus dan dalam darahNya dan kasih karunia saja untuk keselamatan, dan dia menyatakan bahwa satu-satunya otoritasnya adalah Alkitab. Walaupun ayahnya, suaminya, dan putranya telah meninggalkan dia karena imannya, dan walaupun dia dibenci oleh para penguasa negaranya sendiri, kita bisa pasti bahwa wanita Kristen yang rendah hati ini, tidaklah ditinggalkan oleh Bapa Sorgawinya. “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku” (Maz. 27:10).

Anne dan tiga orang penentang Gereja Inggris lainnya dibawa ke tempat eksekusi pada tanggal 16 Juli 1546. Ketika mereka dirantai ke tiang, mereka ditawarkan pengampunan jika mereka mau menandatangani surat penyangkalan. Mereka menolak untuk bahkan melihat kertas yang berisikan pengampunan itu dan menyatakan bahwa mereka tidak datang ke tempat tersebut untuk menyangkal Tuhan mereka. Pada waktu itu, api dinyalakan dan Anne dan teman-temannya dalam Kristus dibakar sampai mati oleh otoritas gerejawi.

  1. Orang-orang Baptis lainnya menderita selama masa pemerintahan Henry VIII, bapa dari Gereja Inggris.

VII. KAUM BAPTIS DIANIAYA PADA ZAMAN RAJA EDWARD VI

Pada saat kematian Henry pada tahun 1547, putranya Edward, yang masih muda, memerintah selama enam tahun.

  1. Edward menghentikan penganiayaan terhadap kaum Protestan, dan bahkan memberikan pengampunan kepada sejumlah kriminal; tetapi penganiayaan terhadap kaum Baptis berlanjut. Sedikitnya dua orang Baptis dibakar di tiang bakar selama pemerintahan Edward.

  2. Walaupun demikian, jumlah kaum Baptis terus meningkat pesat. Uskup John Hooper menulis pada tahun 1549 untuk mengeluh tentang “kawanan domba Anabaptis” di London yang “memberikan saya banyak masalah.” Sangatlah jelas melalui pernyataan-pernyataan lain dari otoritas-otoritas gereja pada waktu itu bahwa ada sebuah gereja Baptis yang terorganisir yang menjalankan upacara-upacara Kristiani. Kita telah melihat bahwa kaum Baptis eksis di London pada masa pemerintahan Henry. Juga ada gereja-gereja Baptis di distrik Kent pada paruh pertama tahun 1500an. Pada Juni 1550, Uskup Hooper menulis, “Distrik itu tergoncang oleh semangat Anabaptis lebih dari bagian kerajaan yang lain manapun” (Ellis, Original Letters, I. 87).

  3. Humphrey Middleton adalah seorang Baptis yang dipenjarakan selama bertahun-tahun pada masa pemerintahan Edward. Taktik yang brutal ini didukung oleh reformator Protestan, Thomas Cranmer. “Ketika Cranmer menjatuhkan hukumannya yang berat [melawan Middleton], si tokoh Baptis yang pintar itu menjawab, “Tuan reverend, jatuhkanlah hukuman apa yang menurutmu pantas untuk kami. Tetapi supaya jangan nanti anda berkata anda tidak diperingatkan, saya bersaksi sekarang bahwa berikutnya bisa saja giliranmu.” Hanya beberapa tahun kemudian, sang Protestan Cranmer, yang telah mendukung pemenjaraan dan pembakaran kaum Baptis, dirinya sendiri dibakar oleh Ratu Mary yang Katolik (Evans, Early English Baptists, volume 1; Foxe, Martyrs).

  4. Pada Mei 1549, Joan Boucher ditangkap. Dia adalah seorang wanita Anabaptis dari Kent, kemungkinan seorang anggota sebuah jemaat kecil di kota Eythorne. Dia adalah seorang wanita yang memiliki cukup banyak harta dan sering berkunjung ke istana kerajaan selama zaman Henry VIII dan Edward. Dia juga adalah teman dekat dari Anne Askew yang saleh, yang dibakar pada zaman Henry VIII, dan seperti Anne, mencintai Perjanjian Baru Tyndale dan mendistribusikan salinan-salinannya kepada orang-orang lain dengan bahaya besar untuk dirinya sendiri. Dia juga mengunjungi orang-orang tahanan dan memakai kekayaannya untuk meringankan orang-orang yang menderita demi iman mereka.

Pada saat dia ditangkap, Joan dituduh mempercayai “bahwa Kristus tidak menjadi daging dari Perawan Maria,” tetapi tuduhan itu sama sekali tidak benar. Dia memegang kepercayaan yang eksentrik dan salah bahwa Maria memiliki dua benih, satu benih alami dan satu rohani, dan bahwa Kristus adalah dari benih rohani. Jika membaca catatan pengadilan, sulit untuk mengetahui persisnya apa yang dia maksudkan, tetapi satu hal ini jelas: dia dengan jelas bersaksi bahwa Maria adalah seorang perawan ketika Yesus dilahirkan dan bahwa dia menerima Kristus sebagai baik manusia maupun Allah dan sebagai Anak Allah yang lahir dari perawan. Jadi, jika dia mempercayai hal-hal aneh mengenai benih Maria, jelas itu bukanlah kesalahan yang lebih besar dari baptisan bayi dan regenerasi melalui baptisan, dan ketidakberdosaan Maria, yaitu kesalahan-kesalahan yang dipegang oleh orang-orang yang menghukum Joan. Gereja Inggris membakar Joan dari Kent hingga mati pada 2 Mei 1550.

  1. Tokoh Baptis lainnya yang mengalami kemartiran di bawah rezim Edward VI adalah George van Pare (atau Parris), seorang ahli bedah dari Jerman. Adalah suatu noda hitam yang menyedihkan atas nama yang sangat bagus, yaitu penerjemah Alkitab Miles Coverdale, karena dia duduk sebagai hakim atas pengadilan Pare. Pare dibakar hidup-hidup pada April 1551. “Dia menderita dengan keteguhan pikiran yang kuat, dan mencium tiang bakar dan kayu bakar yang akan dipakai untuk menghanguskannya” (Burnet, History of the Reformation, II).

  2. Contoh lain penganiaya dari pihak Protestan di Inggris adalah John Hooper. Dia adalah seorang pemimpin di Gereja Inggris selama pemerintahan Edward, dan pada tahun 1549, dia menulis kepada pemimpin Protestan, Henry Bullinger di Jenewa, untuk mengeluh masalah “kawanan Anabaptis” yang “membuat banyak masalah bagi saya” (Ellis, Originial Letters Relative to the English Reformation, I. 65). Hooper, sang Protestan yang menganiaya kaum Baptis itu, belakangan dibakar juga oleh Ratu Mary yang Katolik.

  3. Contoh lain adalah Nicholas Ridley, yang dibakar oleh Ratu Mary pada 17 Oktober 1555 (pada waktu yang sama dengan Latimer). Seperti Thomas Cranmer, Ridley terlibat dalam penghukuman mati Joan Bucher (Joan dari Kent) selama pemerintahan Edward VI. Ridley juga terlibat dalam pembakaran George van Pare pada tahun 1551. Hukuman mati tokoh Anabaptis ini ditandatangani oleh Ridley, Cranmer, dan Coverdale.

  4. Tokoh Protestan, John Philpot, yang dibakar oleh Ratu Mary pada 18 Desember 1555, juga mendukung pembakaran Joan dari Kent. Philpot bersaksi, “Mengenai Joan dari Kent, dia adalah seorang wanita murahan (saya mengenal baik dia), dan sungguh seorang penyesat, sangat pantas untuk dibakar…” (Philpot’s Work’s, Parker Society, hal. 55). Demikian juga yang dikatakan oleh Ratu Katolik Mary tentang sang Protestan Philpot.

  5. Contoh lain lagi dalam urusan yang menyedihkan ini adalah John Rogers. Dia juga mendukung pembakaran Anabaptis, Joan Boucher. Sejarahwan John Foxe, yang memperlihatkan kebaikan dirinya, menentang pembakaran tersebut, dan mencoba untuk menyelamatkan wanita tersebut dari pengadilan itu. Foxe memohon temannya Rogers untuk membantunya. Rogers menolak, dengan berkata bahwa dia [Joan] perlu dibakar dan berbicara tentang kematian melalui pembakaran sebagai sesuatu yang ringan. Foxe menarik tangan Rogers dan menjawab, “Nah, bisa jadi bahwa kamu sendiri akan suatu hari diperhadapkan kepada pembakaran yang ringan ini” (Thomas Armitage, A History of the Baptists, 1890). Kita bertanya-tanya apakah Rogers ada memikirkan pernyataan tersebut, ketika beberapa tahun kemudian dia digiring keluar ke setumpuk kayu bakar dan dibakar di hadapan istri dan 11 anaknya oleh Ratu Katolik Mary.

  6. Hugh Latimer juga adalah seorang reformator Protestan lainnya yang terkenal yang mendukung penganiayaan dan pembakaran kaum Baptis pada zaman Edward. Latimer dibakar oleh Ratu Katolik Mary pada 17 Oktober 1555, tetapi sebelum itu dia sendiri tangannya berlumuran darah orang-orang kudus. Dia adalah uskup London di bawah Edward VI, dan walaupun dikabarkan bahwa dia adalah seorang yang baik hati, kebaikan itu tidak berlaku bagi kaum Anabaptis. Dalam salah satu khotbah yang dia sampaikan di hadapan Raja Edward, Latimer menyebut para Anabaptis “penyesat-penyesat beracun” dan mengacu kepada pembakaran mereka, dengan dingin berkata, “Ya, biarkan mereka pergi” (Cranmer’s Sermons, Parker Society, vol. v). Mengenai martir mereka sendiri, kaum Protestan jelas tidak menunjukkan sikap yang sama, “Ya, biarkan mereka pergi” – dengan kata lain, bagus sekalian hilang sana. Mereka sama sekali tidak memiliki sikap ini. Para sejarahwan Protestan, seperti Foxe dan Wylie dan ribuan lainnya, telah mendirikan peringatan-peringatan besar untuk ingatan akan martir-martir mereka, tetapi sejarahwan-sejarahwan yang sama ini secara umum tidak menyinggung sedikit pun kecuali cercaan bagi ingatan akan kaum Baptis.

VIII. KAUM BAPTIS DIANIAYA PADA ZAMAN RATU ELIZABETH I

Ratu Elizabeth I mengambil alih takhta dari Ratu Mary yang berhaluan Roma Katolik, dan Elizabeth menyetir Gereja Inggris ke atas dasar yang lebih Protestan.

  1. Walaupun Elizabeth memberikan kebebasan kepada kaum Protestan dan memperlakukan kaum Katolik dengan toleran (walaupun mereka terus menerus berkomplot melawan tahktanya dan bahkan nyawanya), dia memperlakukan kaum Baptis dengan keras.

  2. Kaum Baptis bertambah banyak di Inggris dan tersebar di banyak bagian negeri itu. Langley, dalam bukunya English Baptists, sebelum tahun 1602, menyebut gereja-gereja di sembilan wilayah county yang berasal dari sekitar 1576 hingga 1600. Jemaat-jemaat ini tumbuh dari pemberitaan Injil orang Inggris asli yang telah berlangsung untuk waktu yang lama. Mereka juga mulai ber-emigrasi dari Belanda, dan Perancis, dan tempat- tempat lain, dengan harapan bahwa Ratu Protestan di Inggris akan memberikan mereka lebih banyak kebebasan daripada negara asal mereka.

  3. Didukung oleh para uskup Gereja Inggris, dalam hitungan bulan dia naik takhta, Elizabeth mengeluarkan sebuah proklamasi bahwa kaum Anabaptis harus ditemukan dan ditransportasi keluar dari Inggris, dan jika mereka tidak pergi, mereka akan dihukum. Dia mengatakan bahwa kaum Anabaptis “terjangkit oleh pendapat-pendapat yang berbahaya.”

Pada 4 Februari 1559, High Commision Court (sejenis Pengadilan Tinggi) dibentuk oleh Parlemen. Sang Ratu mengeluarkan larangan untuk mengkhotbahkan doktrin apapun yang bertentangan dengan Gereja Inggris. Dia melarang penerbitan buku “sesat” manapun. Dia juga memulai “pembesukan kerajaan,” yaitu perwakilan Raja/Ratu akan mengelilingi negara dalam satu putaran, dengan kuasa untuk mencari semua penyesat. Pada akhir tahun 1559, Undang-Undang Keseragaman Agama diberlakukan. Undang-undang ini membuat doktrin dan praktek Gereja Inggris menjadi hukum bagi negeri itu.

  1. Pada Juni 1575, dua orang Anabaptis Belanda dibakar hingga mati di Smithfield. Awalnya sebelas orang dihukum bakar setelah sebuah pengadilan dewan gereja di Katedral St. Paul, tetapi sembilan orang lainnya akhirnya diusir saja.

Salah satu yang dibakar adalah HENDRICK TERWOOKT. Dia adalah seorang muda, sekitar 25 tahun, yang baru saja menikah beberapa minggu. Dia telah lari ke Inggris untuk menghindari penganiayaan di Fleming, dengan anggapan bahwa Ratu Elizabeth yang Protestan akan lebih berbelas kasihan. Orang yang satu lagi, JAN PIETERS, adalah seorang yang lebih tua, dengan seorang istri dan sembilan anak yang bergantung pada hasil kerjanya. Istrinya yang pertama telah dimartir di Flanders, dan strinya yang sekarang adalah janda seorang martir. Sekarang wanita itu menjadi janda seorang martir untuk kedua kalinya. Surat pemutusan kematian bagi kedua orang tersebut, yang dikeluarkan oleh sang Ratu Protestan, hampir sama persis dengan yang dikeluarkan oleh Ratu Katolik, Mary.

“Sang Ratu tidak mau mengalah. Pada tanggal 15 Juli, dia menandatangani surat eksekusi untuk dua orang dari antara mereka, memerintahkan para sheriff London untuk membakar mereka hidup-hidup di Smithfield. Sebuah salinan surat tersebut saat ini ada di hadapan saya. Juga ada di hadapan saya sebuah salinan surat pembakaran Uskup Agung Cranmer dari zaman Ratu Mary. Kedua surat ini secara substansi sangat mirip. Bahkan, mereka memakai gaya bahasa yang hampir sama, kata demi kata. Mary, sang pemuja Paus, mematikan sang Protestan, dan Elizabeth, sang Protestan, memerintahkan pembunuhan sang Baptis, menggunakan alasan-alasan yang sama dan memakai bentuk tulisan yang sama. Keduanya menyebut korban-korban mereka sebagai “penyesat.” Keduanya mengasumsikan diri ‘berjuang demi keadilan.’ Keduanya adalah ‘pembela iman yang Katolik’ (Editor: universal maksudnya). Keduanya mendeklarasikan keteguhan mereka untuk ‘mempertahankan dan membela gereja yang kudus, hak-hak dan kebebasan gereja itu.’ Keduanya menegaskan kegigihan mereka untuk ‘mencabut dan membinasakan kesesatan dan kesalahan.’ Keduanya menyatakan bahwa para penyesat yang disebut dalam surat telah diadili dan dijatuhi hukuman ‘sesuai dengan hukum-hukum dan kebiasaan-kebiasaan negeri.’ Keduanya memerintahkan para sheriff untuk membawa orang-orang tahanan mereka ke ‘tempat yang publik dan terbuka,’ dan di sana untuk ‘menyerahkan mereka ke dalam api,’ di hadapan orang-orang, dan untuk membuatkan mereka ‘sungguh terbakar’ dalam api yang disebut di atas. Keduanya memperingatkan para sheriff akan bahaya bagi mereka jika mereka gagal” (John Cramp, Baptist History, 1852). Sang ratu tidak memiliki alasan untuk mengklaim bahwa orang-orang ini berbahaya bagi takhtanya. Mereka telah menyerahkan kepada sang ratu pernyataan iman berikut:

“Kami percaya dan mengakui bahwa para magistrasi (hakim-hakim) telah ditetapkan oleh Allah, untuk menghukum kejahatan dan melindungi yang baik; dan magistrasi itu hendak kami taati dari hati kami, sebagaimana tertulis dalam 1 Petrus 2:13, ‘Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia.’ ‘Karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang’ (Roma 13:4). Dan Paulus mengajari kita untuk menaikkan ‘permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan’ (1 Tim. 2:1-4). Lebih lanjut lagi dia mengajarkan kita untuk ‘tunduk pada pemerintah dan orang- orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik’ (Titus 3:1). Jadi, kami memohon kepada paduka yang mulia, untuk dengan baik memahami maksud kami; yaitu, bahwa kami tidak merendahkan sang ratu yang eminen, terhormat dan penuh kurnia, dan juga dewannya yang bijak, tetapi kami menganggap mereka pantas untuk segala kehormatan, dan kepada mereka kami mau taat dalam segala hal yang dapat kami perbuat. Sebab kami mengaku, sama seperti Paulus di atas, bahwa sang ratu adalah hamba Allah, dan bahwa jika kami menolak kuasa ini, kami menolak perintah Allah; sebab ‘pemerintah bukanlah musuh kebaikan, tetapi musuh kejahatan.’ Jadi kami mengakui berada di bawah dia, dan siap untuk memberikan, penghargaan, pajak, hormat, dan rasa takut, sebagaimana Kristus sendiri telah mengajar kita, dengan berkata, ‘Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah’ (Mat. 22:21). Jadi, karena Ratu adalah hamba Allah, kami dengan lembut memohon kepadanya yang mulia, agar ia berkenan untuk menyatakan belas kasihan kepada kami tahanan-tahanan yang menderita, sama seperti Bapa kita di sorga juga penuh belas kasihan (Luk. 6:36).

Kami dengan cara yang sama tidak setuju dengan orang-orang yang menentang magistrasi; tetapi mengakui dan mendeklarasikan dengan seluruh hati bahwa kami taat dan berada di bawah mereka, sebagaimana kami tulis di sini” (Von Braght, Martyr’s Mirror, hal. 929).

  1. Pada tahun 1593, dua pelayan puritan, Copping dan Thacker, digantung karena mengajarkan yang tidak sesuai (J.J. Stockdale, The History of the Inquisitions, 1810, hal. Xxx).

  2. Sekitar waktu kekalahan armada Spanyol pada tahun 1588, Elizabeth menunjuk John Whitgift sebagai Uskup Agung Canterbury. Dalam semangatnya untuk membuat semua orang tunduk kepada Gereja Inggris, dia memenuhi penjara dengan kaum Baptis. “…pada akhirnya, sekitar lima puluh dua ditahan untuk periode waktu yang lama dalam ‘liang-liang penjara yang paling buruk dan kotor,’ tanpa tempat tidur atau bahkan jerami untuk berbaring.” Dalam khotbahnya, Whitgift menyebut kaum Anabaptis “orang-orang yang melenceng dan sombong.” Ada yang melarikan diri dari negeri, tetapi banyak yang tetap tinggal dan dianiaya.

  3. Penganiayaan secara umum memaksa kaum Baptis untuk menghilangkan diri dari pandangan umum semasa pemerintahan Elizabeth, tetapi kita tahu bahwa mereka terus eksis. Sejarahwan Strype menggambarkan sebuah gereja di London pada tahun 1588 dengan pandangan “anabaptis.” Dia berkata bahwa mereka berkumpul secara rutin pada hari Minggu, mengkhotbahkan Firman Allah, mengambil persembahan, mengirimkan bantuan kepada saudara-saudari mereka yang dianiaya dalam penjara, tidak menganggap gereja Inggris sebagai gereja yang sejati, menolak baptisan bayi, dan berpendapat bahwa negara tidak seharusnya mencampuri masalah kepercayaan iman.

IX. KAUM BAPTIS DIANIAYA SELAMA MASA RAJA JAMES I

Ketika Elizabeth meninggal, James I (1603-25) naik ke atas takhta Inggris. Dia adalah raja yang mengotorisasi penerjemahan maha karya Kitab Suci Inggris itu, Alkitab King James, yang muncul pada tahun 1611.

  1. Dia juga menganiaya kaum Baptis dengan berapi-api. Mereka dipenjarakan, barang-barang mereka disita, dan satu orang dibakar.

  2. Orang terakhir yang dibakar hidup-hidup di Inggris oleh karena iman kepercayaannya adalah EDWARD WIGHTMAN, seorang Baptis, di Smithfield pada tanggal 11 April 1612, di bawah pemerintahan James I. (Satu bulan sebelumnya, Bartholomew Legate juga telah dibakar. Dikatakan bahwa ia adalah seorang Arian, yang berarti dia menyangkali keilahian Kristus). Ada banyak jenis “kesesatan” yang dituduhkan pada Wightman, tetapi sebagaimana Thomas Crosby, penulis dari The History of the English Baptists (1738) mengobservasi: “Banyak dari kesesatan yang mereka tuduhkan padanya adalah hal yang sedemikian konyol dan tidak konsisten, sehingga membatalkan apa yang mereka katakan. Jika ia sungguh berpegang pada kepercayaan seperti itu, pastinya ia seorang idiot atau seorang gila, dan mestinya didoakan dan dibantu, daripada dimatikan dengan sedemikian kejam” (Crosby, I, hal. 108). Tiga hal yang karenanya Wightman dibakar adalah sebagai berikut: ‘Bahwa pembaptisan bayi adalah suatu kebiasaan yang keji: Bahwa Perjamuan Tuhan dan Baptisan tidak seharusnya dirayakan sebagaimana sekarang ini dipraktekkan dalam gereja Inggris: Bahwa kekristenan tidak sepenuhnya diakui dan diberitakan di gereja Inggris, melainkan hanya sebagiannya saja.” Mengenai ketiga hal ini, saya setuju dan berdiri teguh bersama dengan sang martir Baptis kuno ini! Adalah fakta yang menarik bahwa baik martir pertama maupun martir terakhir yang dibakar di Inggris karena agamanya adalah orang Baptis. “Yang pertama yang dimatikan dengan cara yang kejam ini di Inggris adalah William Sawtre, katanya karena dapat dibuktikan ia menolak baptisan bayi; dan lalu orang ini, yang terakhir yang mendapat kehormatan merasakan kemartiran seperti ini, juga secara tegas dikecam karena pendapat yang sama: sehingga sektenya mendapat kehormatan untuk membuka jalan, sekaligus menjadi penutup dari semua martir yang dibakar hidup-hidup di Inggris” (Crosby, I, hal. 109).

  3. Orang-orang lain ada yang mati selama pemerintahan James I, tetapi bukan dengan cara pembakaran. Mereka mati dalam penjara. Ini bukan karena kebaikan hati sang raja, tetapi karena teriakan protes publik melawan pembakaran. Sejarahwan Thomas Fuller mencatat, “Raja James, karena alasan politik, lebih suka agar setelah ini para penyesat, walaupun sudah dijatuhi hukuman, lebih baik dengan senyap dan tersendiri habis dalam penjara, daripada mendapat kehormatan, sekaligus menjadi tontonan publik, untuk menghadapi eksekusi publik, yang menurut penilaian populer mirip dengan penganiayaan” (Fuller, The Church History of Britain). Thomas Crosby setuju: “Raja James memilih agar di masa depan, hanya untuk menyita rumah dan tanah mereka, dan menghabiskan kehidupan mereka secara tersembunyi di penjara-penjara yang kotor, daripada memberi mereka kehormatan kemartiran publik, yang tidak terhindarkan akan disebut sebagai penganiayaan” (The History of the English Baptists, I, hal. 110).

  4. Pada tahun 1610, kaum Baptis mengajukan petisi ke House of Lords, untuk dilepaskan dari penjara, tempat mereka ditahan karena hati nurani. Mendekat kepada sidang dengan rendah hati dan lembut, petisi Baptis tersebut mengandung kata- kata menyentuh berikut: “Sebuah permohonan yang rendah hati dari berbagai tahanan miskin, dan banyak lagi yang lain dari antara rakyat Raja yang pribumi dan setia, yang siap untuk bersaksi dengan sumpah kesetiaan dengan segala ketulusan, yang permasalahannya sungguh disayangkan, hanyalah karena masalah hati nurani.” Petisi ini disimpan oleh Perpustakaan House of Lords, dan ditandai, “Telah dibaca dan ditolak.”

  5. Sedikitnya enam orang yang terlibat dalam penerjemahan Alkitab King James berpartisipasi dalam penganiayaan terhadap kaum Baptis dan kaum separatis lainnya pada tahun 1590an. Richard Bancroft, yang membuat instruksi untuk penerjemahan tersebut, telah bekerja secara erat dengan Uskup Agung Canterbury, Whitgift, “mencabut jemaat-jemaat Separatis di London” (Adam Nicholson, God’s Secretaries, hal. 86). Bancroft sangat agresif dalam aktivitas ini, mengirimkan berbagai mata-mata untuk mencari kaum separatis [Editor: separatis di sini bukan dalam pengertian politik, tetapi orang yang tidak mau bergabung dengan gereja Inggris]. Ketika Bancroft mengambil alih sebagai Uskup Agung Canterbury menggantikan Whitgift, dia meneruskan pekerjaan penganiayaan melawan semua kaum “non-conformist” [Editor: kaum yang tidak mau menurut].

Sangat menyedihkan bahwa Lancelot Andrewes terlibat dalam urusan yang parah ini. Dia bertanggung jawab untuk menginterogasi para separatis [Editor: bukan separatis negara, tetapi separatis dari Gereja resmi], di bawah Bancroft, dan dia turun secara pribadi ke “sel-sel yang buruk,” dalam usaha untuk menemukan kesesatan dalam diri korban-korban inkuisisi Anglikan tersebut. Dia menginterogasi Henry Barrow, seorang pemimpin separatis, pada bulan Maret 1590 di Penjara Fleet. Barlow memulai dengan menekankan bahwa satu-satunya standar yang dia pegang adalah Alkitab, bahwa “Kitab Allah seharusnya menentukan secara damai semua kontroversi kita.” Dia bersaksi, “Saya dengan rela menyerahkan seluruh iman saya untuk dicobai dan diadili oleh firman Allah.”

Andrewes menjawab bahwa orang Kristen harus membiarkan “gereja” untuk menafsirkan Kitab Suci dan bahwa mereka tidak boleh menuntut hak untuk penafsiran pribadi, tidak boleh, meminjam istilah yang dia pakai, memiliki “roh pribadi.” Barrow mengeluh tentang pemenjaraan selama tiga tahun dan bahwa “kesendirian, hilangnya sensasi, kondisi lingkungan yang sangat buruk, telah membuat dia masuk ke dalam depresi yang mendalam” (Nicholson, hal. 91). Respons Andrewes terhadap permintaan yang penuh kesedihan ini, adalah sesuatu yang memalukan baginya. Dia berkata: “Untuk pemenjaraan ini, kamu paling berbahagia. Kehidupan yang sendirian dan penuh perenungan adalah kehidupan yang saya anggap paling bahagia. Itu adalah kehidupan yang saya sendiri akan pilih.” Barlow memahami betapa bodohnya pernyataan tersebut dan menjawab: “Anda berbicara secara filosofis, tetapi tidak secara Kristiani. Sedemikian manisnya harmoni kasih karunia Allah bagi saya dalam jemaat, dan juga dalam persekutuan orang-orang kudus dalam segala waktu, sehingga saya membayangkan diri saya seekor burung pipit di atap rumah ketika saya diusir sama sekali. Akankah anda juga bahagia, Mr. Andrewes, jika tidak mendapat olahraga dan udara segar sedemikian lama? Hal-hal ini juga penting untuk tubuh alamiah.” Andrewes sungguh telah menjawab secara filosofis, tetapi tidak secara Kristiani. Tidaklah Kristiani untuk menganiaya mereka yang percaya hal yang berbeda, untuk melemparkan mereka ke dalam sel-sel penjara dan untuk membakar mereka. Barrows dimatikan pada tanggal 6 April 1593, setelah enam tahun pemenjaraan, dan Andrewes berbicara dengan dia lagi pada malam kematiannya. Barrows dihukum mati karena “menyangkali otoritas para uskup, menyangkali kekudusan gereja Inggris dan liturginya dan menyangkali otoritas ratu atas gereja.”

Henry Saville juga terlibat dalam interogasi-interogasi ini. Dia menginterogasi Daniel Studley di Penjara Fleet. Thomas Sparkes menginterogasi Roger Waters yang berusia 18 tahun, yang ditaruh dalam penjara selama setahun “dalam rantai-rantai dalam lubang-lubang paling bau di penjara Newgate, yang dikenal sebagai Limbo” (Nicholson, God’s Secretaries, hal. 88).

Thomas Ravis menggantikan Bancroft sebagai uskup London, dan melanjutkan jejak penganiayaannya. “Segera setelah ia naik ke posisinya di London, dia mengulurkan tangannya untuk mempersulit kaum Puritan yang tidak mau tunduk [pada gereja resmi]. Di antara lain, dia memanggil ke hadapannya, orang yang kudus dan diberkati itu, Richard Rogers, yang selama lima puluh tahun telah melayani dengan setia di Weathersfield, dang yang tentangnya diberikan kesaksian, ‘Tuhan tidak menganugerahi kepada orang lain lebih lagi dari pada dia, dalam hal pemenangan jiwa.’ Dalam hadirat orang yang hebat ini, yang karena kedekatannya pada Allah dijuluki Henokh zaman itu, Uskup Ravis memprotes, ‘Dengan bantuan Yesus, saya tidak akan membiarkan ada satu pengkhotbah pun dalam wilayah ini, yang tidak tunduk dan ikut.’ Namun petinggi gereja itu harus mengalami kekecewaan; karena dia mati, sebelum misinya itu dia mulai dengan sungguh, pada tanggal 14 Desember 1609” (Alexander McClure, The Translators Revived, 1855).

George Abbot, yang menjadi Uskup Agung Canterbury, adalah seorang penganiaya. “Dia tidak akan bertangguh, belakangan dalam karirnya, untuk menggunakan siksaan terhadap pada penjahat, dan untuk menghukum mati pada Separatis” (Nicholson, hal. 157).

  1. Pada tahun 1615, kaum Baptis menyampaikan petisi kepada Raja James untuk kebebasan beragama. Mereka menyatakan doktrin mereka secara gamblang dan membuktikannya lewat Kitab Suci bahwa bukanlah kehendak Kristus bahwa orang-orang Kristen menganiaya mereka yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Hal ini juga ditolak.

  2. Joseph Ivimey mengobservasi bahwa kaum Baptis “menderita amat sangat dari tahun 1590 hingga 1630.” Berikut ini adalah sebuah gambaran yang ditulis oleh seorang Baptis dalam tahanan:

“Kesengsaraan kami adalah pemenjaraan yang panjang dan berkelanjutan selama banyak tahun di berbagai county di Inggris, dan dalam semua itu banyak yang mati dan meninggalkan janda-janda dan anak-anak kecil; penyitaan barang-barang kami, dan hal-hal sejenis, yang sebenarnya dapat kami jelaskan dengan baik; bukan karena kurangnya kesetiaan kepada raja, atau untuk melukai manusia manapun, biarlah musuh-musuh kami dapat menjadi hakim; tetapi hanya karena kami tidak berani untuk menyetujui, dan mempraktekkan dalam penyembahan pada Allah, hal-hal yang sama sekali kami tidak imani, karena itu adalah dosa terhadap Yang Mahatinggi” (dari traktat “Permohonan yang Paling Rendah Hati dari Rakyat Raja yang Setia; yang dianiaya (hanya karena berbeda dalam hal agama), berlawanan dengan kesaksian ilahi dan manusia,” dikutip oleh John Cramp, Baptist History).

  1. Sikap yang kejam dari banyak pelayan Anglikan terhadap kaum Baptis, terlihat dalam contoh pada tahun 1644, dengan penerbitan “THE DIPPERS DIPT; atau, Kaum Anabaptis Dicemplungkan dan Dibenamkan melewati Kepala dan Telinga dalam Perdebatan di Southwark.” Penulis Anglikan yang berpengaruh, Daniel Featley, menggambarkan kaum Anabapstis di Vienna, diikat bersama dengan rantai, dan ditenggelamkan di sungai. Dia lalu mengobservasi dengan dingin, “Di sini anda melihat tangan Allah dalam menghukum anggota-anggota sekte ini untuk dosa-dosa mereka….” Berikut adalah contoh lain dalam publikasi tersebut:

“Dari semua penyesat dan pemecah belah, kaum Anabaptis harus diperhatikan paling seksama dan dihukum dengan berat, jika bukan dicabut sepenuhnya dan diusir dari gereja dan negara. … Mereka mengkhotbahkan, dan mencetak, dan mempraktekkan ketidakkudusan mereka yang sesat secara terbuka; mereka menggelar pertemuan mereka secara mingguan di kota-kota terbesar kita dan daerah-daerah sekitarnya, dan di sana mereka bergiliran bernubuat [Editor: dalam pengertian menyampaikan firman Tuhan di sini]. …Mereka bergerombol dalam jumlah besar ke sungai-sungai Yordan mereka, dan baik lelaki maupun wanita masuk ke dalam sungai, dan dicelupkan sesuai dengan cara mereka seolah di bawah sihir, yang berisikan paham-paham mereka yang salah. … Dan sambil mereka menajiskan sungai-sungai kita dengan pemandian mereka yang kotor, dan mimbar-mimbar kita dengan nubuat palsu mereka dan antusiasme mereka yang fanatik, demikianlah percetakan-percetakan mengeluh di bawah beban penghujatan mereka” (Featley, The Dippers Dipt).

X. KAUM BAPTIS DIANIAYA DI INGGRIS 1626-1689

Gereja Anglikan berlanjut menganiaya orang-orang yang berusaha untuk menyembah Tuhan secara independen, hingga hampir akhir abad 17.

  1. Banyak pengkhotbah Baptis menderita hukuman penjara yang panjang selama abad 17 di Inggris.

Dari dalam penjara dia menulis kepada Calamy dan memintanya untuk mengintervensi baginya, tetapi orang itu tidak mau menolongnya atau bahkan menjawab surat Delaune. Pada Januari 1684, Delaune didenda 100 mark, dan akan dipenjarakan hingga denda itu dibayar, untuk menjamin setahun ke depan, dan buku-bukunya harus dibakar. Karena kini dia tidak memiliki pekerjaan, dia tidak dapat membayar dendanya, dan dia beserta keluarga jatuh miskin. Istrinya dan dua orang anak yang masih kecil harus hidup bersama dia dalam penjara karena tidak adanya penghidupan, dan situasi yang tidak sehat di sana merenggut nyawa mereka satu per satu.

  1. Orang-orang yang percaya Alkitab dianiaya secara kejam selama pemerintahan Raja Charles II (1660-1685) dan Raja James II (1685-1688).

  2. “Undang-Undang Keseragaman” pada tahun 1662, membuat banyak orang dipukuli dan dipenjarakan. Undang-undang Conventicle yang pertama, pada tahun 1664, melarang semua pertemuan agamawi yang tidak sejalan dengan Gereja Inggris. Hukuman-hukuman yang diancamkan antara lain denda yang berat dan pemenjaraan, dan bagi pelanggaran ketiga, pengusiran ke koloni Amerika selama tujuh tahun. Undang-undang Five-Mile pada taun 1665 melarang para pengkhotbah non-conformist untuk masuk dalam radius lima mil ke kota atau desa apapun yang mengandung sebuah jemaat Gereja Inggris di dalamnya. UU ini juga melarang mereka untuk mengajar di sekolah umum ataupun pribadi mana pun. Hukuman untuk setiap pelanggaran adalah denda yang berat yang melampaui kemampuan kebanyakan orang.

Undang-undang Conventicle kedua pada tahun 1670 lebih parah lagi. Selain pemenjaraan dan siksaan lainnya, juga akan ada denda berat bukan hanya atas semua pengkhotbah dan pengikut non- conformist, tetapi juga atas semua pemilik gedung yang dipakai untuk pertemuan-pertemuan non- conformist.

Denda-denda tersebut dibayar oleh penjualan harta milik orang-orang percaya, yang sering terjual dengan harga sangat rendah dibandingkan nilai sejati mereka. Karena sepertiga dari harga denda akan diberikan kepada informan, banyak orang termotivasi untuk melaporkan para separatis dari Gereja Inggris tersebut. Banyak yang jatuh miskin melarat. Ayah-ayah yang mendekam dalam penjara tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong keluarga mereka yang miskin papa. Antara tahun 1660 dan 1689, sekitar 70.000 lelaki dan wanita menderita di bawah penganiayaan agamawi di Inggris; 8.000 orang mati; dan puluhan juta dolar dibayarkan lewat denda.

  1. Tangan panjang Gereja Anglikan juga menimbulkan penganiayaan kepada orang-orang yang percaya Alkitab di Amerika, sebelum kemerdekaan. Koloni Virginia adalah koloni Anglikan, dan pada tahun 1643, sang gubernur menjalankan penganiayaan terhadap orang-orang yang tidak sepaham. Banyak orang yang dicambuk, dicap besi panas, dipenjarakan, didenda, dan diusir dari koloni tersebut.

  2. Akhirnya, pada tahun 1689, Undang-undang Toleransi dimunculkan di Inggris, yang mengurangi jauh tekanan pada semua penentang, memberikan kepada mereka kebebasan hati nurani dan menjadikan tindakan kriminal siapapun yang mengganggu tindakan agamawi orang lain. Jadi, barulah 155 tahun setelah pembentukannya, Gereja Inggris berhenti menganiaya.

XI. PENGANIAYAAN OLEH KAUM PROTESTAN DI AMERIKA

Kaum Protestan yang tinggal di Amerika, walaupun sendirinya melarikan diri dari penganiayaan agamawi, ternyata sendirinya juga menganiaya kaum Baptis dan Quaker dan kaum-kaum lain yang berbeda dengan mereka, hingga sekitar waktu Kemerdekaan Amerika dan dibentuknya Konstitusi (semacam Undang-undang Dasar) Amerika. Kami akan memberikan dua contoh akan hal ini.

Massachusetts

  1. Negara bagian Massachusetts didirikan oleh koloni para Pilgrim di Plymouth pada tahun 1620, dan oleh kaum Puritan dari Massachusetts Bay Colony di tahun 1630. Para pilgrim adalah kaum separatis yang telah dipaksa untuk melarikan diri dari penganiayaan Gereja Inggris. Mereka menghabiskan waktu sejenak di Belanda, lalu berperjalanan dengan kapal ke Amerika. Sementara di Belanda, mereka menikmati sampai tahap tertentu kebebasan beragama, tetapi mereka tidak memberikan hak yang sama kepada orang-orang lain. Mereka mempraktekkan baptisan bayi dan mengutuki kaum Anabaptis. Kaum Puritan adalah orang-orang Anglikan yang menginginkan semacam reformasi pada Gereja Inggris, tetapi yang tidak memisahkan diri dari Gereja Inggris tersebut. Mereka membawa bersama mereka dari Inggris, konsep yang salah tentang gereja negara dan semangat penganiayaan.

  2. Berikut adalah beberapa contoh penganiayaan oleh kaum Prostestan dalam sejarah awal Massachusetts, sebelum terbentuknya negara Amerika:

ROGER WILLIAMS diusir dari Massachusetts pada tahun 1635.

Seorang terpelajar yang gigih, yang bisa membaca Alkitab dalam bahasa Yunani dan Ibrani, Williams tiba di Amerika dari Inggris, dengan istrinya yang belum lama dinikahi pada Februari 1631. Dia adalah seorang hamba Tuhan Anglikan yang telah ditahbiskan, dan pada waktu ia tiba di Amerika, ia masih berpegang pada baptisan bayi. Sementara tinggal di Plymouth, Williams berkhotbah kepada orang-orang Indian asli. Dia mempelajari bahasa mereka dan membuat banyak sahabat di antara mereka, termasuk dua orang kepala suku mereka. Pada bulan Agustus 1634, dia ditunjuk sebagai gembala sidang dari jemaat Anglikan di Salem.

Tetapi pada 9 Oktober 1635, dia diusir dari koloni tersebut karena mengkhotbahkan “pendapat-pendapat yang baru dan berbahaya.” Dia diberikan waktu enam minggu untuk pergi, dan pada bulan Januari dia dipaksa ke padang belantara di tengah musim dingin New England (daerah itu secara umum disebut New England) yang brutal. Orang-orang Indian membantu dia, dan pada bulan Juni, dia berperjalanan dengan kanoe ke Rhode Island dan mendirikan pemukiman yang disebut Providence. Orang-orang lain bergabung dengan dia dari Massachusetts, dan tempat itu menjadi benteng kebebasan beragama. Mereka menyatakan tujuan mereka sebagai “membuat suatu eksperimen yang menarik, bahwa suatu pemerintahan sipil yang berkembang dapat berdiri dan dipertahankan dengan cara terbaik, melalui kebebasan penuh dalam hal beragama.”

Pada bulan Maret 1639, Roger William secara publik diselamkan dalam baptisan, dan gereja Baptis pertama di Rhode Island terbentuk. Ini secara umum dianggap gereja Baptis paling tua di Amerika. Pada bulan Maret 1644, William mendapatkan surat resmi dari raja Inggris untuk mendirikan koloni Rhode Island.

Williams menulis “The Bloody Tenet of Persecution for Cause of Conscience,” dan di dalam tulisan ini dia dengan berani mempertahankan kebebasan hati nurani. Walaupun berbagai fitnah ditujukan kepada Roger Williams oleh berbagai sejarahwan, banyak penulis Baptis yang terpelajar (dan orang-orang lain juga), telah mencatatkan peristiwa yang sebenarnya. Lihat buku-buku sejarah oleh Thomas Armitage dan David Benedict, sebagai contoh. Pada tahun 1634, Lady Deborah Moody, yang memiliki sebuah lahan pertanian sebesar 400 acre, di kota Swampscott, dipaksa untuk pindah ke Long Island, New York, untuk tinggal di antara orang-orang Belanda, guna melarikan diri dari penganiayaan di Massachusetts. “Kejahatan”nya adalah bahwa dia menolak baptisan bayi.

Hukum pertama yang dibuat untuk melawan kaum Baptis di Amerika, dibuat di Massachusetts di November 1644. Undang-undang tersebut mengancamkan hukuman-hukuman berat melawan kaum Anabaptis. Pada tahun itu, Thomas Painter dicambuk karena menolak baptisan bayi.

Pada Februari 1646, William Witter dan John Wood dari Lynn, secara publik ditegor dan didenda karena menolak baptisan bayi. John Spur didenda pada Jlui 1651 untuk “kejahatan” yang sama.

Pada tahun 1651, beberapa orang Baptis ditangkap dan satu dicambuk dengan brutal di Massachusetts. Nama-nama mereka yang ditangkap adalah John Clark, Obadiah Holmes, dan John Crandal. Mereka berasal dari sebuah gereja Baptis di Newport, Rhode Island, dan mereka sedang berkunjung ke rumah William Witter yang telah disebut di atas, seorang saudara Kristen yang sudah tua, di kota Lynn, Massachusetts. Pada waktu itu, tidak ada gereja Baptis di Massachusetts. Pada hari Minggu, mereka mengadakan kebaktian rohani di rumah Witter; dan sementara Mr. Clark sedang berkhotbah dari teks Wahyu 3:10, dua polisi mendobrak masuk ke rumah itu, menangkap mereka, dan membawa mereka ke penjara di Boston.

Holmes dicambuk dengan 30 kali pukul dari cambuk bercabang tiga. Dalam sebuah surat kepada sebuah gereja Baptis di Inggris, Holmes menceritakan kembali kemurahan Tuhan yang menguatkan dia dalam pencobaan tersebut:

“… karena dalam kebenarannya, sambil cambukan demi cambukan jatuh pada diri saya, saya memiliki suatu manifestasi rohani kehadiran Allah yang sedemikian rupa, yang belum pernah saya miliki atau alami, dan yang tidak dapat diekspresikan oleh lidah daging, dan rasa sakit eksternal itu begitu jauh dari diri saya, sehingga sungguh saya tidak dapat memberitahukannya kepada kalian, itu mudah bagi saya, saya dapat menanggungnya dengan baik, ya, dan dengan suatu cara, saya tidak merasakannya, walaupun para penonton menggambarkannya sangat berat, orang itu memukul dengan segenap tenaganya (ya, meludah ke tangannya tiga kali, sebagaimana ditegaskan banyak orang), dengan cambuk bercabang tiga, memberikan kepada saya tiga puluh pukulan. Ketika di melepaskan saya dari tiang cambuk, dengan rasa sukacita dalam hati saya, dan keriangan dalam muka saya, sebagaimana diobservasi oleh para penonton, saya memberitahu para pejabat, kalian telah memukul saya, seperti dengan mawar….”

Walaupun dia bersaksi bahwa dia tidak menderita waktu dipukuli itu, dia menderita berat dari efek selanjutnya. Pencambukan itu sedemikian keras pada punggung, sisi, dan perutnya, sehingga Holmes tidak bisa berbaring selama berhari-hari selanjutnya.

Sekitar waktu itu, dua orang Baptis lainnya, John Hazel dan John Spur, dipenjarakan karena mereka mendukung dan menghibur Holmes setelah dia dicambuk.

Setelah gereja Baptis pertama akhirnya terbentuk di Massachusetts pada kira-kira tahun 1656, anggota-anggota gereja itu “menghabiskan kebanyakan waktu mereka di pengadilan dan penjara; mereka sering didenda, dan beberapa dari mereka diusir.” Gembala gereja ini, Thomas Gould, dipenjarakan karena imannya. Ketika gereja ini belakangan membangun sebuah gedung pertemuan, para otoritas sipil, pada tahun 1680, memaku tutup pintu- pintunya dan memerintahkan mereka untuk tidak bertemu.

Gereja Baptis yang kedua tidak terbentuk di Massachusetts hingga tahun 1749. Ini adalah di kota Sturbridge, dan banyak anggotanya yang dipenjara, didenda, dan disita hartanya. Gereja Baptis lainnya terbentuk di tahun 1761, di kota Ashfield, dan diperlakukan dengan cara yang sama. Banyak anggota gereja yang seluruh tanah dan perkebunan anggur mereka disita.

  1. Penganiayaan ini berlangsung terhadap banyak gereja Baptis lainnya yang didirikan pada zaman itu, dan hal ini tidak berakhir hingga Massachusetts menjadi sebuah koloni dari Amerika Serikat, dan membentuk Undang-undang Dasar Negara Bagian, pada tahun 1780. Melalui usaha kaum Baptis dan kaum-kaum lain yang mencintai kebebasan beragama, UUD Negara Bagian ini mengandung Jaminan Hak yang menjamin kebebasan beriman.

Virginia

  1. Yang pertama tinggal di Virginia, kebanyakan berasal dari Inggris, dan mereka mendirikan gereja- gereja Anglikan.

  2. Melalui undang-undang tahun 1623, 1643, dan 1661, semua warga diharuskan untuk mengikuti agama dan doktrin tersebut.

  3. Undang-undang Virginia, tahun 1659, 1662, dan 1663, mengharuskan semua anak untuk dibaptis dan juga melarang perkumpulan kaum Quakers dan penentang lainnya.

  4. Hamba-hamba Tuhan didukung oleh pajak dari warga negara.

  5. Berikut adalah contoh-contoh penganiayaan oleh kaum Prostestan di Virginia:

Pada 4 Juni 1768, beberapa orang Baptis ditangkap di Spottsylvania, dan dipenjarakan. Di antara mereka adalah John Waller, Lewis Craig, dan James Childs. Mereka mendekam hampir enam minggu di penjara.

Pada bulan Desember 1770, William Webber dan Joseph Anthony ditangkap dan dicampakkan ke dalam penjara karena berkhotbah di Chesterfield, Virginia. Mereka tetap dalam penjara hingga Maret 1771. Webber sekali lagi ditangkap pada bulan Agustus, ketika ia berkhotbah di Middlesex.

Juga ditangkap pada waktu itu adalah John Waller, James Greenwood, Robert Ware, dan Thomas Waford. Waller, Greenwood, Ware, dan Webber ditahan dalam penjara selama sebulan.

Thomas Waford dipukuli dengan berat dengan sebuah cambuk, dan membawa bekas luka hingga ke kubur. Pada Agustus 1772, James Greenwood dan William Loveall ditangkap dan dipenjarakan di daerah King and Queen selama 16 hari.

Pada 13 Maret 1774, semua pengkhotbah Baptis di Piscataway ditangkap dan dikirim ke penjara. Mereka adalah John Waller, John Shackleford, dan Robert Ware. Semuanya, sekitar 30 pengkhotbah Baptis pernah dipenjarakan di Virginia, ada yang sampai empat kali.

  1. Semua penganiayaan ini berlanjut hingga Virginia masuk menjadi bagian dari Amerika Serikat.

  2. Walaupun sema ini terjadi, gereja-gereja Baptis berkembang pesat di Virginia pada waktu itu. Gereja Baptis pertama terbentuk pada tahun 1767, dan yang kedua pada 1769. Dalam waktu empat tahun telah ada sekitar 50 gereja.

XII. KESIMPULAN

Semua ini mengingatkan saya akan perumpamaan Tuhan tentang orang yang dihapuskan hutangnya. Dia berhutang pada tuannya 10.000 talenta perak, yang adalah jumlah uang yang besar, tetapi ketika dia tidak bisa membayarnya, dia memohon kepada tuannya untuk berbelas kasihan padanya, dan tuannya itu dengan bebas mengampuninya akan keseluruhan hutang itu. Namun, orang yang sama itu lalu berbalik, dan menganiaya orang lain yang berhutang padanya jumlah yang sangat kecil (Mat. 18:23-25).

Demikian juga, kaum Protestan dengan sungguh-sungguh mencari kebebasan beragama dari kaum Katolik. Ketika mereka mendapatkannya, mereka menolak untuk memberikan hal yang sama kepada kaum Baptis, walaupun kaum Baptis ini memohon kepada mereka dengan rendah hati dan mengutipkan Firman Tuhan dengan cara yang sangat logis dan saleh.

Sebagai contoh, ketika Hans Muller dihadapkan pada dewan kota Protestan, Zurich, karena penolakannya akan baptisan bayi, dia memohon dengan cara demikian: “Janganlah memaksakan hati nurani saya, karena iman adalah karunia Allah yang bebas, dan bukanlah milik bersama. Rahasia ilahi tersembunyi, seperti harta karun di ladang, yang tidak dapat ditemukan siapapun, kecuali dia yang ditunjukkan oleh Roh Kudus. Jadi saya memohon pada kalian, para hamba-hamba Allah, biarkanlah iman saya berdiri dengan bebas” (John Christian, A History of the Baptists). Permohonan Muller diabaikan, sama seperti puluhan ribu kaum Baptis lainnya pada zaman itu. Berdasarkan otoritas Firman Tuhan, misalnya perumpamaan Tuhan, dan juga nada keseluruhan Kitab Suci Perjanjian Baru, kita bisa yakin bahwa Tuhan tidak menganggap enteng dosa besar ini, dan Dia tidak mengecilkannya seperti yang dilakukan oleh banyak sejarahwan Prostestan. Banyak yang memakai alasan “ketidaktahuan pada zaman itu,” tetapi orang-orang Prostestan yang menganiaya pada zaman itu memiliki Alkitab dan mengakui Alkitab sebagai satu-satunya otoritas atas iman dan praktek mereka. Jadi, mereka sama sekali tidak miliki alasan untuk tidak tahu kehendak Tuhan. Zaman-zaman itu memang gelap, tetapi kaum Baptis, dengan Alkitab yang sama di tangan mereka, melihat terang yang lebih besar, dan terang itu adalah iman Perjanjian Baru yang tidak terkotori oleh tradisi manusia, dan iman itu tidak memberikan otoritas kepada siapapun untuk menganiaya orang-orang yang tidak percaya hal-hal yang sama dengan kita. Kita bisa berkhotbah melawan kesalahan. Kita bisa mendisiplinkan anggota-anggota gereja yang berdosa. Kita bisa menolak kesesatan. Tetapi kita tidak boleh memukul mereka dengan tangan kita, dan memaksa mereka untuk percaya seperti kita percaya. Itu adalah sifat serigala, bukan sifat domba.

REFORMASI KEPALANG TANGGUNG

Pada 31 Oktober 1517, seorang rahib yang bernama Martin Luther memakukan 95 dalil yang bertentangan dengan kebijaksanaan Gereja Roma Katolik di gerbang gereja kota Wittenberg. Tentu Paus pada saat itu menjadi kalang kabut. Luther sampai pada kesimpulan bahwa Gereja Roma Katolik telah MENYIMPANG JAUH DARI KEBENARAN. Mereka mengajarkan jalan keselamatan yang melalui perbuatan manusia. Contoh yang paling konkrit pada saat itu ialah ‘surat pengampunan dosa’ yang diperjualbelikan.

Sayang sekali Luther tidak melihat bahwa akar permasalahannya ialah baptisan keselamatan (baptism regeneration) , yaitu paham tahyul tentang baptisan yang dimulai jauh-jauh sebelumnya yang mengajarkan bahwa baptisan dapat melindungi seseorang dari gangguan iblis, dari sakit-penyakit, dan memastikan keselamatan. Luther menyerukan agar kembali kepada iman. Nats Alkitabnya yang paling terkenal ialah Roma 1:17, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman.’”

Kaum Anabaptis yang sedang bersembunyi merasa sangat senang pada perjuangan Martin Luther. Mereka menyangka bahwa mereka mendapat teman baru di dalam peperangan iman. Banyak di antara mereka segera menggabungkan diri dengan Luther. Demikian juga para Anabaptis yang di Swiss. Mereka sangat bersukacita atas perjuangan Calvin dan Zwingli dan keluar dari persembunyian untuk menggabungkan diri dengan mereka. Namun kemudian mereka sangat kecewa karena menyadari rupanya para reformator itu tidak sanggup melihat inti permasalahan yang menyebabkan berdirinya Satan’s Millenium. Rupanya baik Luther, Calvin, maupun Zwingli tidak menyadari bahwa kesalahpahaman tentang makna baptisan adalah awal penyebab dari malapetaka yang telah berlangsung ribuan tahun. Baik Luther, Calvin maupun Zwingli tetap membaptiskan bayi yang tidak mengerti apa-apa. Mereka tidak menyadari bahwa tindakan itu berarti memasukkan orang-orang yang belum dilahirkan kembali ke dalam gereja. Mereka menganggap masalahnya bukan dari baptisan karena mereka tidak sanggup menyadari bahwa lebih gampang menghimbau orang yang belum dibaptis untuk bertobat dan menerima Kristus daripada orang yang telah dibaptiskan ke dalam gereja.

Yang lebih mengecewakan kaum Anabaptis lagi ialah ternyata para Reformator tidak mengerti apa perbedaan konsep Doktrin Gereja Lokal dengan Doktrin Gereja Universal. Mereka tidak sanggup melihat bahwa Gereja Roma Katolik menjadi sedemikian sesat itu gara-gara dikawinkan dengan negara oleh si Constantine. Baik Luther, Calvin, maupun Zwingli adalah orang-orang yang dibaptis sejak bayi di Gereja Roma Katolik. Mereka sendiri belum pernah dibaptis dengan Baptisan Alkitabiah, yaitu baptisan yang didahului Pengakuan percaya (Kis 8:36-38). Kemudian mereka membaptiskan semua pengikut mereka dengan cara yang sama, yaitu yang mereka tiru dari Gereja Roma Katolik. Lalu kalau ada pengikut mereka yang menyadari kesalahan mereka dan ingin menggabungkan diri dengan para Anabaptis, salahkah kalau para Anabaptis meminta agar mereka mengaku percaya di depan jemaat dan kemudian membaptiskan mereka dengan baptisan Alkitabiah? Reformasi yang mereka lakukan ternyata sebuah reformasi yang kepalang tanggung.

GILIRAN MENJADI PENGANIAYA

Sesungguhnya apa yang dilakukan para reformator itu malu sekali untuk diceritakan. Para reformator menjadi marah sekali kepada kaum Anabaptis dan berusaha membunuh mereka. Darimana mereka belajar sikap membunuh orang yang tidak setuju dengan mereka? Kalau tidak salah, itu dari nenek moyang rohani mereka, yaitu Gereja Roma Katolik yang telah membunuh banyak orang. Bahkan Galileo seorang ilmuwan yang mengatakan bahwa Bumi ini bulat, dipenggal kepalanya oleh Gereja Katolik. (koreksi editor: Galileo tidak dipenggal, tapi dihukum penjara seumur hidup dan meninggal di dalam penjara.)

Reformator yang tercatat paling banyak membunuh Anabaptis ialah Zwingli. Ketika Zwingli mendengar bahwa pengikutnya yang meninggalkannya itu menggabungkan diri dengan Anabaptis dan mereka dibaptis ulang, ia sangat tersinggung dan marah sekali. Ia menganggap orang-orang Anabaptis tidak menghargai baptisannya. Zwingli mengumumkan bahwa barangsiapa yang dibaptis kedua kali, kepadanya akan dilaksanakan baptisan ketiga, yaitu ditenggelamkan ke dalam air.

Tulisan ini akan berubah dari booklet menjadi buku yang tebal sekali jika membicarakan semua Anabaptis yang dibunuh oleh Gereja Roma Katolik dan reformator. Orang pertama yang dibunuh oleh Zwingli ialah Conrad Grebel, seorang pengikut Zwingli yang kemudian menyadari bahwa iman harus mendahului baptisan. Orang berikut yang dibunuh ialah Felix Manz. Ia ditenggelamkan di sungai Limmat. Felix Manz, sesuai dengan keputusan pengadilan, dibawa terikat dari penjara Wellenberg melewati pasar ikan menuju sebuah perahu. Sepanjang jalan ia bersaksi kepada anggota dewan dan semua orang yang berdiri di pantai sungai Limmat, sambil memuji Allah karena walaupun ia seorang berdosa namun diizinkan untuk mati demi kebenaran. Kemudian ia menyerukan bahwa baptisan orang percaya adalah baptisan yang benar sesuai dengan firman Tuhan dan pengajaran Kristus. Suara ibunya terdengar dari jauh mengikuti arus sungai yang memohonnya dengan amat sangat agar ia tetap setia di saat- saat menghadapi pencobaan. Setelah mereka mengumumkan hukumannya, ia dinaikkan ke dalam perahu kemudian mengikuti arus hingga ditengah-tengah sungai Limmat, lalu mereka menurunkan jangkar. Ketika tangan dan kakinya diikat ia berseru dengan suara nyaring, “In manus tuas, Domine, commendo spiritum meum” (ke dalam tanganMu, Tuhan, kuserahkan rohku). Beberapa saat kemudian air sungai yang dingin menutupi kepala Feliz Manz. Menurut catatan Bernhard Wyss, hukuman itu dijatuhkan pada 5 Januari 1527, hari Minggu, jam 3 sore. Anabaptis lain korban pembunuh Zwingli ialah George Blaurock. Ia adalah seorang pelayan Anabaptis yang lebih efektif dari Greble dan Manz. Pada saat Felix Manz dihukum mati, George Blaurock hanya dihukum cambuk. Selanjutnya, dua setengah tahun kemudian ia dibakar hidup-hidup di sebuah tiang oleh kelompok Zwingli. Para reformator berpikir bahwa dengan penganiayaan yang mereka lancarkan maka kaum Anabaptis akan menggabungkan diri dengan mereka. Mereka betul-betul tidak menarik pelajaran dari apa yang mereka alami dari Gereja Roma Katolik. Bagi para reformator baptisan itu bukan masalah besar yang perlu ditekankan dan diperdebatkan. Namun yang tidak dapat dijelaskan ialah, mengapa sesuatu yang mereka katakan tidak berarti itu bisa menyebabkan mereka membunuh orang?

Di pihak lain orang juga bertanya, mengapa kaum Anabaptis mau mati hanya demi beberapa perbedaan yang “kecil”? Jawabannya, kecil bagi orang-orang yang tidak mengerti kebenaran, dan besar bagi yang sungguh-sungguh ingin mematuhi Tuhan. Kaum Anabaptis menyadari bahwa kalau gereja terus membaptiskan orang-orang yang belum dilahir-barukan, maka itu akan menjadi penyebab utama kesesatan gereja pada aspek lain di kemudian hari. Hal kedua ialah konsep sacral-societyyang menghasilkan perkawinan gereja dan negara. Itu adalah malapetaka bagi gereja yang tidak bisa dianggap sepele.

Munculnya konsep sacral-society dalam diri para reformator ialah karena menafsirkan gereja sebagai Israel rohani. Kalau gereja adalah Israel rohani maka cara Israel mengahadapi penyesat sebagaimana yang tertulis di dalam Taurat bisa diterapkan kepada orang-orang yang menentang penafsiran mereka. Konsep bahwa gereja adalah Israel rohani ini diciptakan untuk membenarkan baptisan bayi yang diargumentasikan sebagai pengganti sunat. Padahal firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa sunat jasmani itu digantikan dengan SUNAT HATI, bukan dengan baptisan (Roma 2:28-29).

Dengan konsep sacral-society para reformator mengawinkan gereja mereka dengan negara mereka. Calvin dan Zwingli mengawinkan gereja Presbyterian/ Reform mereka dengan pemerintah Swiss, dan membunuh setiap orang yang tidak setuju dengan mereka. Luther mengawinkan gerejanya, Gereja Protestan, dengan pemerintah Jerman. Mereka membagi wilayah-wilayah kekuasaan gereja serta menyiksa bahkan membunuh orang-orang yang tidak setuju dengan mereka.

Sekalipun tidak tercatat bahwa Luther membunuh Anabaptis, (koreksi: baca kembali bab 2 diatas) namun ia tidak pernah mengkritik perbuatan Zwingli. Calvin teman Zwingli tidak menjatuhkan tangannya secara langsung seperti Zwingli, namun secara diam-diam ia menyetujuinya. Sikapnya yang tidak secara terang-terangan menentang Anabaptis itu mungkin dikarenakan ia mengawini janda seorang Anabaptis yang telah terbunuh di Holand, Idelette de Bure. Servetus, bukan Anabaptis, melainkan seorang penentang Baptisan Bayi, dibakar oleh pemerintah kota Geneva yang dikendalikan oleh John Calvin. Sementara api menyiksanya ia berseru, ”Jesus, thou Son of the eternal God, have mercy upon me!” (Yesus, Engkau putra Allah yang kekal, kasihanilah aku!). Hal itu sangat memilukan hati orang- orang yang menyaksikan. Namun Calvin menyetujui dan berusaha membela tindakan pembunuhan atas Servetus. “Calvin felt it necessary, therefore, to come out with a public defense of the death-penalty for the heresy, in the spring of 1554. he appealed to the Mosaic law against idolatry and blasphemy,….” Terjemahannya, “Selanjutnya Calvin merasa perlu memberikan pembelaan terhadap tindakan hukuman mati bagi penyesat yang terjadi pada musim semi 1554. Ia menerapkan hukum Musa untuk menghadapi penyembah berhala dan penghujat.”

Sekalipun para pengikut Calvin berusaha mencuci nama Calvin dari percikan darah orang-orang yang tidak menyetujui theologinya, namun bercak-bercak Darah Kaum Martir Yang Belum Kering tetap terlihat jelas. Ia merekomendasi bahkan berusaha membenarkan tindakan pembunuhan penentangnya dengan konsep sacral-society Perjanjian Lama. Di antara doktrin-doktrin Calvin yang salah, Doktrin Gereja (Ecclesiology) nya adalah yang paling parah karena ia tidak dapat keluar dari konsep gereja Katolik (universal) dan masyarakat suci (sacral-society) hasil penggabungan gereja dan negara yang diprotesnya. Ia tidak dapat melepaskan diri dari konsep sacral-society PL itu disebabkan karena penafsirannya bahwa gereja adalah Israel rohani.

Didalam konsep sacral-society, yang mana agama dan negara disatukan, maka musuh agama adalah musuh negara, dan sebaliknya. Karena Yudaisme PL ada dalam lingkup sacral-society, maka kita bisa mengerti mengapa ada perintah untuk membunuh para pengajar ajaran sesat dan yang menghujat. Tetapi Tuhan menginginkan agar Jemaat Perjanjian Baru tidak menerapkan sistem sacral-society, dengan mengatakan bahwa hukum Taurat dan masa para nabi itu berhenti pada saat pemunculan Yohanes Pembaptis (Matius 11:13). Oleh sebab itu sama sekali tidak dibenarkan untuk membunuh orang apapun alasannya.

Sikap yang Tuhan inginkan dari murid-murid Perjanjian BaruNya terhadap orang yang tidak percaya itu bukan membunuh mereka, melainkan menginjili mereka. Sedangkan kepada orang yang menentang, itu bukan dengan menyiksa mereka, melainkan menjelaskan kepada mereka kebenaran dan mendoakan mereka. Penganiayaan terhadap kaum Anabaptis ternyata meluas seturut dengan berdirinya gereja-gereja yang dipersatukan dengan negara. Ketika gereja Anglikan (Episkopal) disatukan dengan pemerintah Inggris, maka menderitalah kaum Anabaptis di Inggris. Namun penganiayaan tidak membuat orang jera, melainkan membuat orang-orang berotak bertanya-tanya untuk mencari kebenaran di balik penganiayaan itu.

Benjamin Keach, seorang yang berhasil menulis 33 buku akhirnya menyadari iman kaum Anabaptis adalah iman Alkitabiah. Dialah yang mendirikan jemaat yang kemudian digembalakan C.H. Spurgeon. Ketika pemerintah, pemilik gereja Episkopal, menyadari bahwa buku-bukunya mengandung pengajaran Anabaptis, akhirnya mereka menjatuhkan hukuman denda, penjara, dan sebelumnya di-pillory (dihadapkan di depan umum untuk dilempar dengan telor, batu dan lain sebagainya). Kesempatan ini dipakai Keach untuk berkhotbah kepada orang-orang yang datang menontoninya. Semua buku-bukunya dibakar dihadapannya, dan kemudian ia dipenjarakan berkali-kali. John Bunyan, penulis buku Perjalanan Seorang Musafir yang dikenal baik oleh orang Kristen Indonesia, menulis buku itu di dalam penjara Bedford, Inggris. Pemerintah Inggris ingin mengeluarkannya dari penjara jika ia mau berjanji tidak akan mengkhotbahkan doktrin Anabaptis. Rupanya Bunyan memilih tinggal di dalam penjara daripada tidak dizinkan mengkhotbahkan iman yang benar. 12 tahun lamanya ia dipenjarakan. Satu-satunya penghiburan yang berharga ialah putrinya yang buta yang selalu hadir menghiburkannya. Buku Perjalanan Seorang Musafir itu sebenarnya adalah cerita yang ditulisnya untuk menghibur putrinya.

Anabaptis tidak pernah membunuh siapapun, karena ketika ia membunuh untuk membenarkan pengajarannya, maka ia bukan seorang Anabaptis lagi. Yang dilakukan oleh seorang Anabaptis terhadap orang-orang yang tidak menyukai pengajarannya hanyalah berusaha menjelaskan kebenaran kepada mereka dan mendoakan mereka agar Allah mencelikkan mata rohani mereka.

Sumber/ disalin dari: PEDANG ROH: Jurnal Teologi, Sarana Pendidikan Teologi dan Pemberitaan Kebenaran oleh GITS, Edisi 57, Triwulanan Oktober-Desember 2008, Suhento Liauw (STh., M.R.E., D.R.E., Th.D)